Tag: buku yg kuterjemahkan

Belajar Multikulturalisme Lewat Komik

Judul: “Kita Bisa Bersahabat, Rin!”
Naskah: C. Krismariana W.
Ilustrasi: Thomdean
Lay Out: Yossy Sihol Putra
Diterbitkan pada bulan Mei, 2007
Komik ini diterbitkan dalam rangka Pendidikan Multikulturalisme dengan Pengembangan Karakter; kerja sama antara Persekutuan Sahabat Gloria dan Public Affair Section Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Awalnya aku menulis naskah ini adalah karena permintaan seorang teman yang memiliki kepedulian pada pendidikan anak-anak. Kali ini yang menjadi fokusnya adalah pendidikan multikulturisme.

Multikulturalisme merupakan fakta bahwa kita hidup di tengah masyarakat dengan berbagai kultur. Kultur atau budaya di sini bukan melulu soal kesenian, tetapi lebih pada cara hidup sekelompok orang, di dalamnya termasuk agama, teknologi (yang mereka pakai), adat istiadat, cara pandang, dan lain-lain.  Jika melihat sekeliling kita, kita akan dengan mudah melihat hal semacam itu. Tengoklah tetangga kita, siapakah mereka? Dari suku apa mereka? Kebiasaan apa yang mereka miliki? Bagaimana cara pandang mereka? Mungkin mereka tak jauh berbeda dengan kita dalam hal-hal tersebut, tetapi bisa jadi, mereka sangat berbeda dengan kita, bukan?

Perbedaan-perbedaan itu bisa menimbulkan gesekan di dalam masyarakat. Kemungkinan terjadinya konflik sangat tinggi.

Lalu bagaimana kita bisa mengelola perbedaan tersebut? Idealnya, kita belajar menangani perbedaan kultur itu sejak dini–sejak anak-anak. Nah, karena itulah komik ini dibuat. Saat ini masih jarang sekolah yang mengajari anak-anak mengelola perbedaan dan konflik yang berkenaan dengan multikulturalisme. Kalau menurutku sih, kita terkadang tidak terbuka dan menerima adanya perbedaan itu.

Ide pokok dalam komik ini adalah menerima perbedaan agama dan suku. Tentu saja, tokohnya adalah anak-anak. Di sini, perbedaan agama yang kuangkat adalah Islam, Kristen, dan sedikit memasukkan Konghucu. Adapun suku yang kuceritakan adalah suku Jawa dan Cina. Aku sengaja mengangkat hal-hal itu karena aku melihat seringnya konflik timbul antara Islam dan Kristen, serta antara suku Jawa dan Cina (sebenarnya lebih tepatnya pribumi dan non-pribumi).

Ketika menuliskannya, aku teringat pernah mendengar olok-olok yang berkenaan dengan perbedaan agama dan suku. Bahkan sampai sekarang, tak jarang aku masih melihat dan merasakan adanya kecurigaan yang beredar di masyarakat mengenai hal tersebut. Orang agama X curiga dengan agama Y. Orang suku X tidak suka dengan orang suku Y. Lalu mereka pun bertikai ….

Komik ini tidak diperjualbelikan, tetapi disebarkan secara cuma-cuma kepada anak-anak binaan yang dikelola oleh Persekutuan Sahabat Gloria. Sebenarnya aku berharap komik yang mengangkat tentang perbedaan seperti ini dapat diperjualbelikan di toko buku. Bagaimanapun Indonesia memiliki kultur yang berbeda dengan negara lain, dan anak-anak Indonesia bisa belajar menerima perbedaan semacam ini sejak dini.

Advertisements

Yuk Belajar Tentang Robot

EduComics-ROBOTJudul: Aku Suka Belajar Robot
Ide cerita: DongaScience
Teks: Fourth Dimension
Ilustrasi: Jeong Jieun
Ukuran buku: 20,5 x 29 cm
Isi: 65 halaman
Penerbit: PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2009

Kupikir aku tak punya robot di rumah. Tapi ketika menerjemahkan buku ini, aku jadi tahu bahwa aku ternyata menyimpan beberapa robot di rumah. Hehehe. Rupanya rice cooker dan komputer yang kupakai setiap hari itu termasuk robot. Alangkah bodoh dan ndesonya aku ya!

Buku ini dibuka dengan adegan Neo sedang bermain dengan dua robot mainannya, Maru dan Geo. Setelah kelelahan ketiganya beristirahat. Nah, rupanya ada seorang robot jahat android yang ingin menghancurkan manusia dan membangun dunia robot. Dan untuk mewujudkan keinginannya  itu dia menggunakan cara licik, yaitu memasang cip aneh dalam tubuh Maru dan Geo. Cip itu membuat Maru dan Geo melakukan perjalanan ke kota robot di masa depan. Bagaimana Maru dan Geo bisa menggagalkan cita-cita jahat robot android itu?

Di dalam buku ini dikisahkan petualangan Maru, Geo, dan Neo saat mengikuti sinyal cip yang dipasang oleh android. Selama perjalanan, mereka bertemu dengan berbagai macam robot, di antaranya robot humanoid, robot android, robot dokter, robot psikoterapi, robot militer, robot luar angkasa, dan robot nano. Dari perjumpaan dengan bermacam-macam robot itu, mereka jadi tahu bagaimana sejarah awal robot, bantuan di berbagai bidang yang diberikan robot kepada manusia, permainan robot, tiga aturan robot, dan sebagainya.

Ini memang buku anak-anak. Tetapi ketika menerjemahkannya, aku mendapat informasi yang cukup lumayan lo. Misalnya, aku baru tahu bahwa ternyata ada robot yang bisa mendapatkan energi dari makanan yang mengandung gula (halaman 57). Lalu, ternyata ada aturan yang dibuat oleh Isaac Asimov untuk mencegah agar robot yang pintar dan maju tidak memberontak melawan manusia di masa yang akan datang (halaman 59). Dan menyenangkan sekali bisa mendapatkan informasi dengan cara seperti itu. Aku mengacungkan jempol kepada tim penulis buku ini karena bisa menyajikan pengetahuan kepada anak-anak dengan cara membangun cerita fiksi dan memasukkan informasi ke dalamnya. Kurasa anak-anak akan menyukainya. Aku yang awalnya tidak tahu apa-apa soal robot, jadi tertarik 🙂

Buku ini pertama kali diterbitkan di Korea, lalu diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh PT Bhuana Ilmu Populer (BIP). Tim penulisnya adalah Fourth Dimension, yang merupakan sekelompok penulis yang mengembangkan tulisan edukasi yang menarik untuk anak-anak. Buku tulisan mereka ini direkomendasikan oleh Menteri Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi. Ilutrasi buku ini dikerjakan oleh Jeong Jieun, yang sudah suka menggambar sejak kecil. Buku ini bisa dibaca oleh anak-anak mulai usia 5 atau 6 tahun.

Kado Kisah Natal

kado.jpgBukan Kado Biasa
Kisah-kisah Natal yang seindah kado para majus
Judul asli: Gifts of the Wise Men: A Treasury of Christmas Stories
Penulis: Colleen Reece
Penerbit asli: Kregel Publications (Grand Rapids)
Penerbit Indonesia: Gloria Graffa (Yogyakarta)
Terbit di Indonesia: Oktober 2005

Aku senang melihat ketika melihat buku ini pertama kali. Buku aslinya sebenarnya adalah buku gift. Jadi dalamnya colourful, berkertas art paper, banyak gambar yang indah-indah. (Duh, jadi pengen kapan-kapan menulis buku gift sebagus itu dan diterbitkan dalam bahasa Inggris. Tapi kapan ya?)

Buku ini isinya kisah-kisah seputar Natal. Kisah-kisah itu bagi penulisnya begitu berharga sehingga ibarat kado dari orang majus. Sebagian dari kisah-kisah buku ini merupakan kisah masa kecil Colleen. Ada kisah ketika ia pertama kali menabung untuk membeli kado Natal bagi para anggota keluarganya, cerita tentang ibunya yang dengan segenap hati membuat selimut perca untuk kado Natal, dan masih banyak lagi. Selain kisah hidup penulis itu sendiri, ada juga kisah-kisah yang–bagiku–sangat menyentuh hati. Rasanya gimanaaaa … gitu waktu membacanya.

Ketika mengerjakannya, aku suka menikmati kisah-kisah itu dan akhirnya setelah membaca cukup lama, aku mulai mengerjakannya. Tetapi rupanya badan dan mataku tidak bisa diajak kompromi terlalu lama. Aku capek dan … tidur deh! Hehehe. Toh akhirnya buku itu selesai juga sebelum Natal.

Nilai-nilai yang kuat di dalam buku ini adalah kasih dan persaudaraan. Rasanya ada kehangatan yang menjalari hati ketika membaca masing-masing kisahnya. Buku ini mengajariku untuk mengolah kisah hidup sehari-hari untuk dipaparkan secara istimewa. Tulisan-tulisan ini ibarat nasi goreng yang dimasak dengan tambahan sosis, kacang polong, udang, trus waktu menghidangkannya diberi garnish yang bagus banget. Menu yang biasa sebenarnya, tetapi diolah dan disajikan dengan sangat manis. Nyam!

Let’s Dance in Desert

dancing2.jpgMenari di Gurun
Judul asli: Dancing in The Desert
Penulis: Marsha Crockett
Penerbit asli: InterVarsity Press (Illinois, USA)
Penerbit Indonesia: Gloria Graffa (Yogyakarta)
Terbit di Indonesia: Januari 2005

Seingatku, ini adalah buku pertama yang aku terjemahkan selama di Gloria. Entah mengapa, kok akhirnya aku yang menerjemahkannya dan tidak diberikan kepada penerjemah2 lepas seperti biasanya.

Buku ini gampang-gampang susah untuk diterjemahkan. Bahasanya agak “mendayu-dayu“, karena buku ini isinya refleksi perjalanan iman sang penulis. Masing-masing bab dirancang untuk memperluas waktu bersama Allah. Penulis merancang agar pembaca menggunakan buku untuk ikut berefleksi juga, sehingga buku ini tidak dimaksudkan untuk dibaca dalam waktu singkat. Karena itu, aku dulu perlu berpikir lebih keras untuk menemukan kata-kata yang memudahkan seseorang untuk berefleksi. Tetapi asyik juga kok waktu mengerjakannya. Itu adalah tantangan.

Yang paling berharga adalah dengan menerjemahkan buku ini aku dapat mengevaluasi diri. Jadi, bisa dibilang, ketika menerjemahkannya, itu pun menjadi waktuku untuk introspeksi. Kalimat-kalimat yang tertulis di sini membuatku bertanya-tanya tentang diriku sendiri. Misalnya, ketika penulis menulis “Barangkali masa depan menahan kita untuk beristirahat dengan puas dalam pemeliharaan Allah” (hlm. 22), aku jadi berpikir, jangan-jangan aku kadang uring-uringan dan merasa tidak puas karena tidak bisa melihat indahnya saat ini–detik ini, menit ini? Aku terlalu khawatir dengan masa depan yang sepertinya membuatku bimbang. Aku bingung sendiri dan bertanya-tanya, apa yang sebaiknya aku lakukan agar masa depanku aman? Aku lupa bahwa Allah-lah yang memiliki masa depan. Yang perlu dilakukan adalah berbuat sebaik mungkin hari ini.

Bagian yang paling kusukai dari buku ini adalah sub bab yang diberi judul Sukacita Tersembunyi. Isinya sebenarnya tidak jauh berbeda dari perikop di Alkitab, tetapi penulis membahasakannya lagi sehingga bentuknya seperti tulisan-tulisan fiksi. Misalnya cerita tentang Yesus yang mencelikkan mata Bartimeus. Terjemahannya menjadi seperti ini:

Yesus mengulurkan tangan ke arah Bartimeus dan bertanya dengan lembut, “Apa yang engkau inginkan untuk Kulakukan padamu?” Senyum mengembang di wajah keriput Bartimeus. Tak seorang pun pernah menanyakan pertanyaan luar biasa seperti itu kepadanya, “Apa yang engkau inginkan untuk Kulakukan padamu?” Pertanyaan itu bisa saja membuatnya berpikir berbagai hal. Barangkali ia akan menjawab, “Duduklah di dekatku, dan mari kita bicara.” Atau mungkin ia akan berkata, “Gambarkan pohon wangi ini dan burung yang bernyanyi di pohon itu.” Tetapi pertanyaan Yesus sungguh mengejutkan dia. Dan yang diinginkan Bartimeus saat itu hanyalah melihat wajah orang yang bersedia menanyainya dan sanggup memenuhi permintaannya. Dan dengan ucapan perlahan, berani ia berbisik, “Rabi, aku ingin melihat.”

Tulisan seperti itu membuat sepenggal kisah itu menjadi sangat mengena di hati. Hmmm … Rasanya jadi pengin menulis buku sendiri 😀