Category: Buku yang kusunting

Renungan Setahun bersama Zig Ziglar

Judul: The One Year Daily Insight with Zig Ziglar and Dr. Ike Reighard (Renungan Setahun)
Penerjemah: Arie Saptaji, Slamat Sinambela, & Lenny Wati
Penyunting: Krismariana W. & James Yanuar
Cover & Layout: Felly Meilinda
Penerbit: PT. Visi Anugerah Indonesia, Bandung, Desember 2011

Ini adalah buku renungan satu tahun–berisi 360 renungan yang dapat dipakai untuk setiap hari selama satu tahun penuh.

Ini buku pertama dari penerbit Visi yang aku kerjakan.

Buku ini dikerjakan secara keroyokan. Penerjemahnya tiga orang, penyuntingnya dua orang–salah satunya aku. Jadi, bukan cuma aku yang menggarapnya.

Kesanku ketika mengerjakannya adalah susah-susah gampang menyunting buku yang diterjemahkan keroyokan. Perlu menyeragamkan citarasa bahasa para penerjemahnya. Cara mereka mengalimatkan suatu frasa berbeda-beda. Dan sepertinya jam terbang mereka juga beda-beda. (Sepertinya sih, mungkin para penerjemahnya perlu diwawancarai lebih lanjut soal ini. :D)

Epos: Kisah Besar yang Melibatkan Kita

Judul edisi bahasa Indonesia: Epos

Subjudul: Hidup adalah kisah kepahlawanan Kerajaan Allah yang melibatkan kita untuk berperan di dalamnya

Judul edisi bahasa Inggris: Epic

Penulis: John Eldredge

Penerbit: Gloria Graffa, Juli 2010

Penerjemah: Stephanus Wakidi

Desain isi dan sampul: Pulung Dananjaya

Penyunting: C. Krismariana W.

Tebal: 144 halaman

Ukuran buku: 12,5 cm x 19 cm

Aku ingat pertama kali membaca buku ini, yaitu ketika berada di ketinggian, menembus awan … setelah beberapa jam sebelumnya kehujanan. Waktu itu aku sedang naik pesawat dalam perjalanan dari Jogja ke Jakarta. Saat di perjalanan ke bandara, aku kehujanan. Aku lupa bawa payung, tapi untunglah ada seorang perempuan yang mau berbagi payung denganku. Namun, karena payung itu kecil, aku tetap kuyup. 😀

Waktu itu, yang aku baca adalah edisi bahasa Inggrisnya. Aku waktu itu masih bekerja sebagai editor in-house, dan buku ini kubawa untuk kureview–akan diterjemahkan dan diterbitkan atau tidak. Dan, saat membacanya pertama kali, aku menikmatinya. Entah, ya kok rasanya seperti dibuai. Mungkin aku terlalu melankolis? 😀 (Terus terang aku jadi kangen mereview buku seperti dulu lagi. Kapan ya bisa melakukannya lagi?) Setelah mengundurkan diri sebagai editor in-house, aku mendapat kesempatan untuk menyunting terjemahan buku ini.

Buku ini berbicara tentang kehidupan, tepatnya hidup sebagai orang Kristen–pengikut Kristus pada umumnya. Buku ini ibarat metafora; ia menjelaskan kehidupan orang Kristen dengan membandingkannya dengan suatu kisah. Buku ini menjelaskan bahwa hidup kita bagaikan kisah kepahlawanan yang pernah kita baca. Namun, kali ini kita terlibat di dalamnya. Kita tidak hanya menonton atau membacanya dan berada di luar kisah tersebut, tetapi kita punya peran dalam kisah itu. Bapa yang menulis dan merancang kisah itu untuk kita.

Dengan membaca buku ini, kita akan terbantu untuk menemukan makna sebagai pengikut Kristus. Kita akan terbantu untuk menemukan jawaban atas pertanyaan: Sebagai orang Kristen, hidup macam apa yang kini kita jalani saat ini? Buku yang tidak tebal ini menjelaskan gambaran besar hidup kristiani dan keselamatan yang ditawarkan Kristus. Penulis memakai beberapa contoh kisah atau film yang sudah beredar (misalnya, film Titanic, Braveheart, Lord of The Ring, dll) untuk menghidupkan tulisannya dan untuk membantu kita memahami pesan yang disampaikannya.

Buku ini bisa dibaca oleh umat Kristen pada umumnya. Selain itu, kurasa buku ini cocok untuk orang yang baru mulai mengenal Kristus atau baru dibaptis karena bisa membantu mereka memahami kehidupan kristiani.

Where’s God?

 

Judul: Jika Allah di Mana-mana, Mengapa Aku Tak Menemukannya?
Judul asli: If God Is Everywhere Why Can’t I Find Him?
Penulis: Kimberly Sadler
Penerbit asli: Living Ink Books, imprint dari AMG Publishers, Chattagona, Tennesse, 2005
Penerbit edisi Indonesia: Gloria Graffa, Yogyakarta, November 2008
Penerjemah: Ida Budipranoto
Penyunting: C. Krismariana W.
Desain sampul & isi: Yuphita Nofihantiwi

Buku ini merupakan gabungan antara kisah pergumulan hidup dan perenungan. Sesuai dengan sub-judulnya, “merasakan kehadiran Allah saat badai hidup melanda,” penulis buku ini menceritakan badai hidup yang ia alami dan bagaimana ia sempat tak bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Di manakah Tuhan? Dia pun mempertanyakan, Jika Allah ada di mana-mana, mengapa aku tak bisa menemukannya?

Badai hidup memang bisa mengaburkan pandangan kita terhadap Tuhan. Banyak orang mengalaminya. Tetapi seperti pengalaman kakek sang penulis saat mobilnya terperosok dalam pasir halus ketika dalam perjalanan ke tempat ia memancing, sang kakek cukup menekan pedal gas dan kopling bergantian untuk memaju-mundurkan mobilnya, sampai mobil itu bisa terbebas dari jebakan pasir. “Kadang kala kamu perlu mundur dahulu sebelum maju,” demikian ujar sang kakek.

Buku ini tidak hanya berisi kisah pergulatan yang dialami Kimberly Sadler, tetapi juga diperkaya oleh kisah-kisah dari orang lain yang juga mengalami kehilangan pandangan terhadap Tuhan. Ada tujuh orang yang ikut serta menceritakan kisah mereka; masing-masing disisipkan di akhir bab. Kisah-kisah mereka ini memperkaya pengalaman sang penulis yang sudah dikemukakan sebelumnya.

Aku mendapat kesempatan menyunting hasil terjemahan buku ini. Seingatku hasil terjemahannya lumayan, yang kulakukan adalah membuat terjemahan ini menjadi lebih luwes agar enak dibaca.

Buku Pengenalan tentang Homeschooling

Judul: Homeschooling untuk Anak, Mengapa Tidak?
Penulis: Loy Kho
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta 2007
Ukuran: 19,5 x 12,5 cm
Tebal: 104

Ini adalah buku tentang homeschooling yang pertama kali aku sunting. Buku ini ditulis oleh seorang ibu asal Indonesia yang kini tinggal di Cary, North Carolina, Amerika Serikat. Di sini ia menuliskan tentang pengalaman dan pemikirannya dalam memilih homeschooling sebagai cara untuk mendidik anak-anaknya.

Lewat buku ini ia memberi banyak informasi tentang seluk-beluk homeschooling di sana, termasuk alamat-alamat situs yang bisa diakses. Dengan demikian, para orang tua yang sedang mempertimbangkan hendak menerapkan homeschooling bagi anak-anak mereka, bisa memperoleh banyak informasi.

Secangkir Kopi Menemani Obrolan Homeschooling

Judul: Secangkir Kopi
Subjudul: Obrolan Seputar Homeschooling
Penulis: Loy Kho
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta 2008
Ukuran: 18,5 x 12,5 cm
Tebal: 262 halaman

Akhir-akhir ini istilah homeschooling mulai cukup sering terdengar di masyarakat. Sebagian orang ada yang sudah mengerti betul, sebagian lagi ada yang mengartikan homeschooling sebagai sekadar sekolah di rumah. Bagaimanapun, di Indonesia homeschooling masih belum marak.

Sebelum menyunting buku ini, aku juga kurang mengerti betul tentang homeschooling. Tetapi aku berpikir, gagasan sekolah di rumah itu tampaknya menarik. Hanya saja, untuk mengetahui betul kegiatan keluarga yang menerapkan homeschooling, aku tak tahu harus mencari di mana. Memang, di dunia maya aku sempat membaca beberapa situs di internet mengenai keluarga yang menerapkan homeschooling. Nah, setelah menyunting buku ini aku jadi lebih tahu tentang pengalaman keluarga-keluarga homeschooling.

Buku ini berisi pengalaman beberapa orang tua yang tinggal di Amerika yang menerapkan homeschooling bagi anak-anaknya. Di bagian pendahuluan, Loy Kho menyatakan bahwa lewat buku ini ia hendak mengajak pembaca untuk mengintip keluarga-keluarga homeschooling. Kebanyakan dari mereka adalah anggota kelompok FISH (Family Instructing Student at Home, yaitu perkumpulan jemaat Gereja Apex Baptist yang menerapkan homeschooling). Selain itu Loy Kho juga mengajak pembaca berkunjung ke rumah Aminah dan Anissa (keduanya nama samaran) yang menerapkan homeschooling bagi anak-anak mereka. Aminah adalah orang Malaysia sedang Anisaa orang Indonesia; keduanya bermukim di Amerika. Juga, pembaca diajak mengunjungi Kim Ashby, pendiri  GIFTSNC (Giving and Getting Information for Teaching Special Needs Children; yaitu wadah bagi keluarga yang dikaruniai anak-anak berkebutuhan khusus); dan juga Ibu Lusi yang merupakan Ketua dari National Federation of The Blind di daerah Wake County; serta Ibu Sharon pendiri Spiceline dan Pendeta Scott dari Gereja Colonial Baptist di Cary, North Carolina. Karena berisi tentang pengalaman-pengalaman orang tua, maka isi buku ini lebih banyak “bercerita”, dan bukan penuturan yang kering.

Di buku ini juga disertakan mengenai legalitas hukum homeschooling di Indonesia, kurikulum homeschooling dan model kelompok-kelompok pendukung.