Tentang Sleepless yang Romantis

Bisa dibilang, aku masih pemula dalam penerjemahan novel berbau romantis. Tapi sebetulnya aku lumayan menikmati. Menikmati ceritanya, dan saat menerjemahkan novel drama romantis aku belajar tentang penulisan novel serupa. Kalau dilihat plotnya, novel-novel semacam ini memiliki alur yang serupa. Happy ending. Semua bahagia dan mungkin banyak ya yang menyukai akhir kisah yang bahagia ya?

Belum lama ini aku mendapat bukti terjemahanku berjudul Sleepless in Scotland–Terjaga di Skotlandia karya Karen Hawkins. Novel ini berakhir manis. Ceritanya dimulai ketika Caitriona hendak menyelamatkan saudari kembarnya, Caitlyn. Saudari kembarnya ini kabarnya akan menjalankan rencana konyol yang bisa mencoreng nama baiknya sendiri dan tentu saja bisa menghancurkan kehormatan keluarga mereka. Caitlyn hendak menjebak kakak Hugh MacLean–Alexander–supaya melamarnya. Idenya? Caitlyn akan bersembunyi di dalam kereta yang ditumpangi Alexander.

Dalam rangka penyelamatan itu, akhirnya Caitriona justru terlibat yang rumit. Akhirnya dia sendiri harus menikah dengan Hugh, semata-mata untuk menjaga kehormatannya sendiri dan keluarga. Apa yang dialami Caitriona selanjutnya?

Di sela-sela menerjemahkan novel ini, aku ikut lokakarya penerjemahan sastra. Jadi, pelajaran yang kudapat dalam lokakarya itu bisa kuterapkan langsung–terutama soal membuat kalimat efektif.

Satu hal yang kudapat dari novel ini adalah mengenai penulisan sebuah novel, terutama bagaimana membuat ide yang sederhana tetap tersaji secara menarik. Seperti yang sudah kusebutkan di atas, novel bergenre historical romance ini alurnya bisa ditebak. Bagi sebagian orang, alur novel yang semacam ini kurang menarik. Namun, kurasa justru di situlah tantangannya. Di sini kulihat penulis memasukkan percakapan yang menarik. Gaya tulisannya pun lincah. Barangkali memang demikian ya tuntutan menulis novel drama. Ibaratnya sama-sama membuat nasi goreng, tidak semua orang mampu membuat nasi goreng istimewa yang nagih.

Jika sebagian penerjemah kurang suka menerjemahkan cerita romance, aku toh tetap menikmatinya. Dengan menerjemahkan cerita semacam ini, aku bisa menambah kosakata yang berkaitan dengan emosi dan kata-kata deskriptif. Dalam menerjemahkan ini kuncinya adalah jangan bosan membuka kamus, terutama kamus ekabahasa (aku pakai kamus Longman). Selain itu membuat terjemahan yang mengalir dan enak dibaca tentu tetap menjadi tantangan seorang penerjemah buku (fiksi).

Oya, satu hal lagi, ternyata yang menyunting terjemahanku ini adalah Mas Agus, suami Teh Rini. Jadi, aku bisa mendapatkan masukan langsung. Aku paling senang mendapat masukan langsung dari editor, karena dengan begitu aku bisa belajar kan? Bagiku masukan seorang editor itu penting sekali bagi kemajuan penerjemah. Terus terang aku sangat menghargai editor yang masih sempat memberi masukan langsung dan detail kepada penerjemah karena hal itu memakan waktu kerjanya. Lagi pula, bukankah penerjemah dan editor itu adalah tim yang perlu bekerja sama dengan baik?

IMG_4463Judul asli: Sleepless in Scotland
Judul bahasa Indonesia: Terjaga di Skotlandia
Penulis: Karen Hawkins
Penerjemah: Krismariana
Editor: Agus Hadiyono
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Februari 2013
Ukuran buku: 11 x 18 cm
Tebal: 407 halaman