Cock Up (one’s) Toe

Baru-baru ini aku merasa jatuh cinta. Jatuh cinta pada pekerjaanku sebagai penerjemah. Dulu kupikir, menjadi penerjemah itu bekalnya hanya hapal kamus. Itu dulu. Sekarang sih mikirnya, “Wiiih… gile, kamus dihapal? Emang sanggup?”

Jelas tidak. Itu tak perlu dipertanyakan lagi.

Menjadi penerjemah itu mesti rajin buka kamus. Dan untunglah sekarang zaman internet. Jadi, kalau kesandung kata/frasa/konteks yang membuat kening berkerut, senjatanya adalah googling. Sebelumnya tentu aku buka-buka kamus luring atau bongkar koleksi kamusku.

Barusan aku menemukan kata cock up his toes di salah satu teks yang kuterjemahkan. Awalnya aku mencari padanan frasa cock up. Di kamus Oxford, aku menemukan arti cock up adalah to ruin something by doing it badly, or by making a careless or stupid mistake. Jadi, kupikir ini artinya orang tersebut melakukan kesalahan konyol.

Eh, tapi tunggu dulu. Kan ada kata toe di situ. Aku bongkar-bongkar kamus lagi, tidak menemukan arti frasa cock up (one’s) toe. Aku pun googling daaan… akhirnya nemu di sini. Ternyata cock up (one’s) toes artinya to die alias orang tersebut meninggal.

Rasanya senang bisa menemukan arti kata itu. Dan itu memang cocok dengan kalimat yang kuterjemahkan. Rasanya seperti menemukan keping puzzle yang nyangkut entah di mana. 🙂

Jadi penerjemah itu asyik kan?

Teka-teki Buttery

Sudah lama aku tidak menulis apa pun di blog ini. Sebetulnya ada beberapa buku hasil terjemahan yang bisa kupajang di sini. Tapi entah kenapa, aku selalu menunda memuatnya di blog ini. Nanti saja ya. 😀

Aku hanya ingin menulis ngalor-ngidul saja. Ini soal kamus. Selama ini aku mengandalkan dua kamus eka bahasa, yaitu Longman dan Oxford. Lalu ketika punya telepon pintar, suamiku menawari aku apakah aku mau pasang kamus Merriam-Webster. “Ringan kok,” katanya. Aku, yang gaptek ini, manut saja. Soal teknologi, aku pasrah bongkokan sama dia. Akhirnya, aku kini dengan mudah mengakses kamus itu dengan mudah.

Aku merasa kamus Merriam-Webster ini sangat membantu. Pernah suatu kali aku menemukan kata “buttery” pada novel yang kuterjemahkan. Seketika pikiranku menangkap kata ini pasti berkaitan dengan “butter” alias kata sifat dari “butter”. Tapi loh, kok tidak pas ya? Kalimat aslinya begini:

In those days there were outbuildings here ini the bailey that housed everything from livestock to the buttery….

Apakah maksudnya tempat itu jadi tempat untuk menaruh ternak dan barang-barang berbau mentega? Aneh. Salah satu hal penting yang kupelajari saat menekuni profesi penerjemah adalah jika terjemahanmu tidak nyambung, kemungkinan (besar) ada yang salah. Nah!

Ketika aku buka kamus Longman, aku menemukan kata buttery itu adalah kata sifat untuk butter. Waktu kubuka kamus Oxford, aku menemukan artinya: like, containing or covered by butter. Duh, kok tidak pas ya?

Lalu aku buka kamus Merriam-Webster, dan akhirnya teka-teki buttery itu terpecahkan. Di situ aku menemukan bahwa buttery salah satu artinya adalah storeroom for liquors.

Dua hal yang kupetik dari teka-teki buttery ini. Pertama: kalau terjemahanmu terdengar tidak nyambung, cek sekali lagi. Kemungkinan ada yang keliru. Kedua, miliki kamus yang bisa diandalkan. Selama ini kamus Mirriam-Webster yang ada di telepon pintarku cukup bisa jadi rujukan ketika dua kamus andalanku sebelumnya tidak memadai. Kalau setelah mengecek di semua kamus yang kumiliki tidak kudapat arti kata yang kucari, maka terakhir ubek-ubek internet. Biasanya ini berhasil. 🙂

Cerita dari Balik Layar

Sejak resmi tidak menjadi pegawai kantoran lagi, aku agak kesulitan ketika mendapat pertanyaan: “Anda dari mana?” Maksudnya “dari mana” di sini bukan menanyakan asal daerahku, melainkan soal instansi tempat aku bekerja. Dulu aku dengan mudah menyebutkan nama perusahaan atau penerbit tempat aku bekerja. Namun, sekarang tidak lagi.

Kini aku betul-betul menjadi seorang penerjemah. Ya, sebagian besar waktuku kuhabiskan untuk menerjemahkan buku. Hanya sesekali saja aku menulis. Kadang itu pun hanya tulisan permintaan teman. Kadang hanya pekerjaan “pro bono”. Selama aku sejalan dengan visi dan misi dari pekerjaan pro bono itu, sebetulnya tidak terlalu masalah. Tapi kalau pro bono-nya kebanyakan, bisa-bisa aku justru nombok. Jelas aku menghindari hal itu. Kalau dulu masih mendapat gaji setiap bulan, sedikit-sedikit pro bono ya tak apalah. Anggap saja seperti kolekte. 😀

Sejak betul-betul tak bernaung pada instansi mana pun, aku harus membiasakan diri untuk menjawab apa pekerjaanku. Tidak semua orang paham apa artinya menjadi penerjemah. Seperti misalnya ketika aku membuka rekening di bank, aku wajib menjawab apa pekerjaanku saat ini. Ketika kujawab, “Penerjemah,” ibu cantik yang bertugas di belakang meja berlabel customer service mengerutkan kening. “Saya isi sebagai wiraswasta saja ya?” Aku malas berdebat dan menjelaskan panjang lebar. Jadi, aku iyakan saja.

Tadi siang, ketika aku ke Indonesia Book Fair, aku masuk sebuah stand penerbit. Saat membayar belanjaanku, salah seorang bapak yang bertugas di situ bertanya, “Mbak dari mana?” Sekali lagi aku tak tahu harus menjawab apa. Aku balik bertanya, “Maksudnya, asal saya, pekerjaan saya, atau bagaimana?” Si bapak menjawab, “Pekerjaan Mbak.” Oh … ya mbok ngobrol. “Saya penerjemah, Pak.” Kebetulan aku membeli sebuah buku yang dulu kuedit dari penerbit itu . “Dulu saya yang mengedit buku ini,” lanjutku sambil mengambil salah satu buku yang kubeli. “Saya ingin memiliki lagi. Seingat saya nomor buktinya dulu saya berikan kepada orang lain.” Walaupun penerjemah dan editor berlainan pekerjaannya, semoga bapak itu tahu bahwa pekerjaanku berkaitan dengan pengerjaan buku. Toh, dia bekerja di penerbit, kan?

Saat menulis ini, aku jadi teringat status salah seorang dosenku. Dia menulis kutipan: Translator is a performer without a stage (Wechsler, 1998). Seorang penerjemah bagaikan pelakon tanpa panggung. Memang ada benarnya. Lagi-lagi contohnya kudapat ketika aku ke IBF tadi siang. Di stand sebuah penerbit yang cukup besar (nggak usah disebut namanya ya, toh tidak banyak kan yang bisa disebut penerbit besar hehe), ada banner yang memajang pengumuman bahwa akan ada acara “book signing” (tanda tangan) buku XYZ oleh sang pengarang. Buku XYZ itu adalah buku yang kuterjemahkan. Tapi di banner itu jelas tidak tertulis namaku. Haha. Dan sampai sekarang aku belum pernah menjumpai acara penandatanganan sebuah buku oleh penerjemahnya. Bagiku itu tidak masalah. Toh honorku sudah dibayar. 😀

Memang tidak banyak orang yang memerhatikan seorang penerjemah. Mungkin hanya orang-orang yang berprofesi sebagai penerjemah yang memberikan perhatian kepada (karya-karya) beberapa penerjemah yang sudah dianggap senior. Misalnya saja penerjemah buku-buku yang kita nikmati semasa anak-anak atau pra-remaja: Pak Agus Setiadi, Pak Djokolelono, Bu Listiana, Bu Maria A. Rahartati Bambang. Pernah dengar namanya? Nama mereka bisa dilihat dalam buku-buku seri Lima Sekawan, Sapta Siaga, Pasukan Mau Tahu, STOP, Asterix, dll. Berkat beliau kita bisa membaca seri-seri itu dengan nikmat, seolah bukan buku terjemahan. Itu tidak mudah lo. Kalau mau iseng, coba bandingkan hasil terjemahan mereka dengan buku aslinya. Kalau isengnya masih kurang, coba kalian terjemahkan satu atau dua paragraf, setelah itu bandingkan dengan hasil terjemahan mereka. Kalau sama nikmatnya, mungkin kalian bisa melamar menjadi penerjemah ke sebuah penerbit. Membuat terjemahan yang betul-betul enak dibaca butuh “jam terbang” yang tinggi. Meskipun di belakang layar, kadang penerjemah pun harus salto lo! 😀

Oleh-oleh dari Lokakarya Penerjemahan Sastra (8-12 Oktober 2012)

Kira-kira dua bulan yang lalu suamiku memberitahukan sebuah tautan tentang Inisiatif: Pusat Penerjemahan Sastra–lokakarya penerjemahan sastra. Wah ini menarik, pikirku. Meskipun selama ini buku-buku yang kuterjemahkan atau kuedit tidak termasuk buku sastra, tapi bidang penerjemahan dan sastra adalah dua hal yang menarik minatku. Untuk mengikuti lokakarya tersebut, calon peserta diminta mengirimkan contoh hasil terjemahan berikut naskah aslinya. Aku pun mengirimkan–di saat-saat terakhir. Lalu beberapa waktu kemudian diumumkan bahwa aku masuk sebagai salah satu peserta.

Hari Senin, tanggal 8 Oktober 2012. Tibalah hari lokakarya itu. Aku masuk dalam kelas penerjemahan dari teks (nukilan buku) bahasa Inggris yang bahasa aslinya adalah bahasa Belanda. Dalam lokakarya itu ada tiga kelas sebetulnya, yaitu penerjemahan teks (nukilan buku) bahasa Inggris yang bahasa aslinya Norwegia, dan kelas penerjemahan dari teks bahasa Belanda langsung. Teks yang diberikan untuk kelasku adalah nukilan dari novel Dover, karya Gustaf Peek. Novel ini membahas tentang imigran gelap dan perdagangan manusia, dengan tokoh utama seorang Indonesia keturunan Cina.

Dalam lokakarya ini kami menerjemahkan teks tersebut dengan meneliti serta memilih kata yang tepat. Jadi, kami mendiskusikan setiap pemilihan kata sehingga menghasilkan terjemahan yang efisien serta enak dibaca. Satu hal yang menarik dari diskusi itu adalah penulis novel, Gustaaf Peek, serta penerjemah (dari bahasa Belanda ke bahasa Inggris)–David Colmer–datang. Jadi, kami bisa bertanya apa saja tentang teks itu. Mulai dari latar belakang novel tersebut sampai hal-hal detail di dalamnya. Pengalaman berdiskusi ini memperkaya diriku dalam menerjemahkan sebuah teks (buku). Jika sebelumnya aku berpikir menerjemahkan secara berkelompok itu akan sangat melelahkan (terbayang eyel-eyelannya), kini aku berpikir lain. Menerjemahkan secara berkelompok membuat kami dapat menemukan pilihan kata yang tepat. Pemikiran beberapa orang teman justru memperkaya, bukannya melemahkan. Selain itu, kami mendapat group leader yang sangat membantu, yaitu Mas Anton Kurnia, penulis, penerjemah,  sekaligus editor (di Penerbit Serambi).

Bagiku, yang menarik dari diskusi dalam kelas lokakarya itu adalah ketika kami bisa bertanya langsung kepada pengarang dan penerjemahnya. Selama ini aku belum pernah berkontak langsung dengan penulis (beberapa) buku yang kuterjemahkan. Menurutku, komunikasi itu sangat membantu penerjemah. Dengan adanya dialog dengan penulis, penerjemah dapat mengurai kebingungan ketika menemukan bagian teks yang tidak dipahami. Dengan begitu, akan dihasilkan terjemahan yang enak dibaca dan akurat. Tentunya hal itu akan menguntungkan penulis buku yang bersangkutan. Sayangnya dalam proses penerjemahan buku, komunikasi semacam itu memang sangat jarang dilakukan. Hal ini terjadi biasanya karena pihak penulis sendiri yang kurang mau membuka diri untuk berkomunikasi. Kurasa komunikasi itu bisa dijembatani oleh pihak penerbit atau agen.

Lokakarya ini berlangsung selama lima hari (8-12 Oktober 2012) di Erasmus Huis, Jakarta dan pada hari keenam ditutup dengan pementasan teks yang kami garap selama lima hari itu. Pementasan itu juga hal yang baru bagiku. Jadi, kami memeragakan adegan dari nukilan novel tersebut. Lokakarya ini diselenggarakan dengan kolaborasi The British Centre for Literary Translation (BCLT, http://www.bclt.org.uk). Bersamaan dengan workshop ini juga diadakan seminar tentang penerjemahan sastra untuk mendiskusikan kondisi penerjemahan sastra di Asia, Eropa, dan Australia.

Pengalaman Ikut Pelatihan Penerjemahan Dokumen Hukum

Kemarin aku ikut pelatihan penerjemahan hukum dokumen notariat yang diselenggarakan oleh HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia), dengan instruktur utama Bapak Evand Halim. Jika dulu ketika masih menjadi karyawan, pelatihan atau seminar yang dapat menambah wawasan dibiayai kantor, sekarang semuanya sendiri. Tapi bagiku itu tidak masalah. Karena bagaimanapun aku harus meningkatkan kapasitasku kan? Dan selama ini aku tidak banyak tahu tentang dokumen hukum karena lebih sering menerjemahkan buku. Jadi ketika HPI mengadakan pelatihan itu, aku ikut saja. Awalnya ragu karena pengalamanku dalam penerjemahan dokumen hukum masih sedikit sekali. Lalu aku berpikir bahwa seseorang sekolah, ikut pelatihan, atau apa pun itu karena punya kemauan untuk menambah pengetahuan. Jadi, justru karena tidak tahu itu, kita belajar.

Dari pelatihan itu aku belajar tentang kosakata yang biasa dipakai untuk suatu akta. Misalnya nih, untuk “harta gono-gini” itu sudah ada istilah khususnya yaitu “community property“. Itu pengetahuan baru bagiku yang selama ini hanya pegang terjemahan buku-buku umum (dulu malah kebanyakan temanya christian living) atau buku fiksi biasa. Selain itu, bahasa hukum akta yang ada di Indonesia kan suka aneh dan berbelit-belit. Notoriously bad languange, katanya. 😀

Dari pelatihan kemarin aku menangkap beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menerjemahkan dokumen hukum ke bahasa Inggris. Pertama, seorang penerjemah setidaknya perlu tahu tentang hukum dan istilah-istilahnya yang khas. Walaupun mungkin tidak tahu banyak sekali tentang dunia hukum, setidaknya kenal hal-hal penting yang sering dipakai/sering muncul. Kedua, penerjemah sebaiknya tidak begitu saja mencomot istilah yang banyak beredar di internet. Perlu riset sedikit kalau perlu, jadi perlu menimbang juga seperti apa kondisi atau istilah yang biasa dipakai di Barat.

Pelatihan kemarin berlangsung dari pukul 8.30 sampai 17.30. Agak molor sedikit dari waktu yang sudah ditetapkan.

Secara keseluruhan, aku belajar banyak dari pelatihan kemarin. Mungkin aku perlu belajar lebih serius lagi jika aku memutuskan untuk terjun dalam penerjemahan teks-teks hukum.

Antara Menerjemahkan, Membaca, dan Menulis

Suatu kali aku pernah mendapat pekerjaan berupa mengedit sebuah karya terjemahan. Karena hendak mengejar momen tertentu, buku itu diterjemahkan oleh beberapa penerjemah. Di situlah seorang penyunting berperan, yaitu menyamakan “rasa” dari beberapa penerjemah tersebut. Bagaimanapun, masing-masing penerjemah memiliki citarasa bahasa yang bebeda-beda. Ada satu penerjemah yang menurutku bagus hasil terjemahannya. Setahuku, dia suka membaca dan menulis. Kurasa karena kebiasaannya membaca dan menulis itulah, rasa bahasa yang ia tuangkan dalam karya terjemahannya menjadi lebih bercitarasa daripada para penerjemah yang lain.

Aku sendiri kadang merasa kehabisan kata-kata saat menerjemahkan. Saat membaca teks aslinya (bahasa Inggris), aku bisa paham. Tetapi saat harus menuangkan artinya ke bahasa sasaran (bahasa Indonesia), aku jadi bingung. Lalu bagaimana? Cara yang paling mudah adalah dengan membuka kamus. Kadang aku perlu membandingkan antara satu kamus dengan kamus yang lain. Yang sangat membantu biasanya adalah dengan menengok kamus Inggris-Inggris. Dengan begitu, aku jadi tahu citarasa suatu kata dalam bahasa aslinya (bahasa Inggris). Jika perlu, cek pula kamus Inggris-Indonesia.

Aku pikir, salah satu tuntutan penerjemah adalah memiliki kosakata yang kaya. Dengan begitu, sang penerjemah bisa menghasilkan karya terjemahan yang enak dibaca. Pembaca tidak akan terlalu tersendat saat membaca hasil pekerjaannya dan tentu saja hal ini akan meringankan kerja editor. Cara paling mudah untuk memperkaya kosakata adalah dengan membaca. Ya, semudah itu caranya. Terutama bagi penerjemah buku, cara itu aku rasakan sangat efektif. Ketika aku hanya berkutat dengan pekerjaan menerjemahkan, kadang aku jadi kehabisan kata. Kata yang kupakai akhirnya itu-itu saja. Padahal kalau aku membaca buku yang lain, baik fiksi maupun nonfiksi, rasanya aku mendapat asupan kosakata. Aku jadi berpikir, “Oh, iya … bisa juga pakai kata ini ya.” Dan ketika membaca, aku jadi diingatkan lagi tentang bagaimana membangun kalimat yang efektif.

Cara lain yang menurutku agak merepotkan adalah dengan membandingkan hasil terjemahan dengan buku aslinya. Acap kali memang tidak mudah mendapatkan buku asli dan buku terjemahannya. Tetapi, satu dua kali aku pernah melakukan cara ini. Dengan cara itu, aku sebenarnya bisa benar-benar belajar bagaimana menerjemahkan dengan baik. Jika penerjemahnya bagus, aku bisa tahu diksi yang tepat. Selain itu, aku juga bisa belajar untuk membuat kalimat terjemahan yang mudah dipahami, meskipun itu berarti aku sedikit mengutak-atik kalimat.

Dulu, ketika awal-awal menjadi editor, penyeliaku memberikan nasihat begini: “Jika ada satu kalimat yang tidak nyambung dengan kalimat berikutnya, kamu mesti curiga. Biasanya ada kekeliruan di situ.” Dan memang benar. Rasanya tidak mungkin kan kalau dalam satu paragraf diceritakan si X pergi ke pasar, lalu tiba-tiba ada satu kalimat yang membahas masakannya enak. Ini misalnya saja sih. Hal seperti ini sangat dipahami oleh seorang penulis. Seperti zaman kita sekolah dulu, dalam pelajaran mengarang, kita tahu bahwa satu paragraf isinya adalah satu gagasan. Jika isinya macam-macam ide, berarti pikiran penulisnya kacau. 😀 Dan paragraf yang satu akan berkaitan dengan paragraf berikutnya. Kupikir, jika seorang penerjemah itu biasa menulis, hal seperti ini akan melekat di kepalanya. Jadi, jika ada satu kalimat atau bahkan satu kata yang tidak nyambung, “radarnya” akan memberi sinyal bahwa ada kekeliruan.

Kini setelah aku renungkan, ada dua hal yang baik dilakukan oleh seorang penerjemah, yaitu membaca dan menulis. Tapi kalau terus dikejar tenggat waktu, dua hal itu kadang sulit untuk dilakukan. Nah, jadi tugas berikutnya adalah: Pandai-pandailah membagi waktu antara bekerja dan mengasah kemampuan. 😀 Bagaimanapun, sebuah pisau harus rajin diasah agar tetap tajam, bukan?