Category: Buku yang kuterjemahkan

Menerjemahkan Buku Cerita Rohani untuk Anak

Salah satu materi terjemahan yang sulit untuk kutolak adalah naskah cerita anak (Inggris-Indonesia). Ya, ya … honornya memang tidak bisa dibilang banyak. 😀 Tapi aku suka sekali mengerjakannya. Katanya, rasa gembira saat bekerja merupakan upah tersendiri. Aku yakin, sesuatu yang dikerjakan dengan cinta hasilnya baik.

Suatu hari seorang teman editor mengirimiku SMS:
Mau nerjemahin cerita anak, nggak Kris? Bukunya tipis kok, bisa buat “cemilan”.

Hihi, aku geli membaca istilah “cemilan” itu. Memang sih buku cerita anak itu biasanya ceritanya sederhana dan bukunya pun tidak terlalu tebal. Kadang bisa untuk penyegaran di sela menerjemahkan novel atau buku umum.

Balik ke SMS dari temanku tadi, aku langsung mengiyakan. Padahal saat itu tenggatku untuk terjemahan sebuah novel sudah hampir dekat. Tapi demi sebuah cerita anak, aku tidak kuasa menolak. (Lebay! Haha.)

Belakangan ini bukti terbit buku cerita anak yang kuterima kebanyakan adalah buku cerita alkitab/rohani untuk anak. Ini buku-bukunya:

My First Bible
My First Bible

1. My First Bible–40 Kisah Terkenal dalam Alkitab
Karya: Heather Amery
Ukuran: 24 x 26 cm (hardcover)
Tebal: 140 halaman
Penerbit: Genta (imprint dari BIP), Jakarta
Sesuai dengan subjudulnya, buku ini memuat 40 kisah dalam Alkitab yang sudah sering kita dengar, misalnya cerita Nuh yang membuat bahtera, menara Babel, kisah Daud dan Goliat, kelahiran Yesus, kunjungan orang majus, dll. Cerita di dalamnya dibagi dua, yaitu cerita Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Gambarnya menarik dan kalimat-kalimatnya pun sederhana, cocok untuk anak-anak.

 

 

Buku Cerita Alkitabku
Buku Cerita Alkitabku

2. Buku Cerita Alkitabku
Karya: Bethan James dan Estelle Corke
Ukuran: 19,5 x 24 cm (hardcover)
Tebal: 144 halaman
Penerbit: Genta (imprint dari BIP), Jakarta
Isinya hampir sama dengan buku yang kusebutkan sebelumnya. Dari segi “kemasan”, buku ini lebih kecil dan agak kurang menonjol jika disandingkan dengan buku My First Bible–40 Kisah Terkenal dalam Alkitab. Yang membedakan tentu gaya penceritaan karena ditulis oleh dua orang yang berbeda. 😀 (ya iyalah …)

 

 

Aku Ada di Sana ...
Aku Ada di Sana …

3. Aku Ada di Sana … Ketika Laut Merah Terbelah
dan kisah-kisah Alkitab lainnya
Karya: Renita Boyle dan Estelle Corke
Ukuran: 21 x 25 cm
Tebal: 56 halaman
Penerbit: Genta (imprint dari BIP), Jakarta
Buku inilah yang dikatakan temanku “bisa untuk cemilan” dalam mengerjakan terjemahannya. 🙂 Buku ini tidak setebal dua buku sebelumnya, tapi menurutku ini yang paling menarik. Kisah-kisahnya diambil dari beberapa kisah yang menonjol dalam Alkitab, tapi diceritakan lewat sudut pandang orang pertama, yaitu sudut pandang si tokoh. Misalnya, pengalaman Musa ketika dia memimpin penyeberangan lewat Laut Merah. Semuanya ada 28 kisah tokoh, mulai dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Ada pula cerita tokoh yang anonim, misalnya teman orang lumpuh yang diturunkan dari atas genting supaya bisa disembuhkan Yesus. Menurutku, ide gaya penceritaannya buku ini sangat menarik.

 

 

Musa
Musa

4. Musa dan Umat Pilihan Allah (Seri Cerita Alkitab)
Karya: Joy Melissa Jensen
Ukuran: 16,5 x 24 cm
Tebal: 61 halaman
Penerbit: Visi Press, Bandung
Sebagaimana tersirat dari judulnya, buku ini bercerita tentang Musa mulai dari perbudakan Mesir, kelahiran Musa, sampai ketika Musa meminta kepada Tuhan agar diizinkan melihat wajah-Nya. Buku ini bisa dipakai orang tua dan guru Sekolah Minggu untuk mengajarkan perjalanan hidup Musa dan apa saja yang telah dilakukannya.

 

 

Yesus
Yesus

5. Yesus Melakukan Mukjizat dan Penyembuhan (Seri Cerita Alkitab)
Karya: Joy Melissa Jensen
Ukuran:16,5 x 24 cm
Tebal: 61 halaman
Penerbit: Visi Press, Bandung
Buku ini menitikberatkan pada karya-karya Yesus, yaitu berbagai mukjizat serta penyembuhan yang Dia lakukan. Buku ini memuat 29 cerita tentang Yesus, misalnya: Yesus menyembuhkan orang yang lumpuh tangannya, Yesus meredakan badai, Yesus menyucikan Bait Allah, dll. Jika Anda orang tua atau guru Sekolah Minggu, Anda bisa menyampaikan setiap cerita secara terpisah kepada anak-anak.

Dari kelima buku itu, yang paling menarik bagiku adalah buku yang berjudul: Aku Ada di Sana … Ketika Laut Merah Terbelah. Buku ini unik karena cara penceritaannya lain, yaitu dari sudut pandang orang pertama.

Menerjemahkan buku cerita anak gampang-gampang susah. Kelihatannya gampang, tapi kita tidak bisa menyepelekannya karena ada hal-hal penting yang harus diperhatikan. Yang terutama adalah soal bahasa yang dipakai. Ketika hendak memakai suatu kata, kadang aku bertanya-tanya, kata ini mudah dipahami anak atau tidak ya? Selain itu mesti menjaga untuk tidak menyusun kalimat terlalu panjang.

Ada satu hal lagi yang selalu aku lakukan ketika menerjemahkan buku cerita rohani untuk anak, yaitu membaca kisahnya yang ada dalam Alkitab. Hal ini penting terutama dalam hal nama tokoh. Kadang nama tokoh dalam bahasa Inggris berbeda dengan bahasa Indonesia. Selain itu, aku membandingkan alur cerita dan beberapa kalimat langsung yang ada dalam Alkitab.

Advertisements

Tentang Sleepless yang Romantis

Bisa dibilang, aku masih pemula dalam penerjemahan novel berbau romantis. Tapi sebetulnya aku lumayan menikmati. Menikmati ceritanya, dan saat menerjemahkan novel drama romantis aku belajar tentang penulisan novel serupa. Kalau dilihat plotnya, novel-novel semacam ini memiliki alur yang serupa. Happy ending. Semua bahagia dan mungkin banyak ya yang menyukai akhir kisah yang bahagia ya?

Belum lama ini aku mendapat bukti terjemahanku berjudul Sleepless in Scotland–Terjaga di Skotlandia karya Karen Hawkins. Novel ini berakhir manis. Ceritanya dimulai ketika Caitriona hendak menyelamatkan saudari kembarnya, Caitlyn. Saudari kembarnya ini kabarnya akan menjalankan rencana konyol yang bisa mencoreng nama baiknya sendiri dan tentu saja bisa menghancurkan kehormatan keluarga mereka. Caitlyn hendak menjebak kakak Hugh MacLean–Alexander–supaya melamarnya. Idenya? Caitlyn akan bersembunyi di dalam kereta yang ditumpangi Alexander.

Dalam rangka penyelamatan itu, akhirnya Caitriona justru terlibat yang rumit. Akhirnya dia sendiri harus menikah dengan Hugh, semata-mata untuk menjaga kehormatannya sendiri dan keluarga. Apa yang dialami Caitriona selanjutnya?

Di sela-sela menerjemahkan novel ini, aku ikut lokakarya penerjemahan sastra. Jadi, pelajaran yang kudapat dalam lokakarya itu bisa kuterapkan langsung–terutama soal membuat kalimat efektif.

Satu hal yang kudapat dari novel ini adalah mengenai penulisan sebuah novel, terutama bagaimana membuat ide yang sederhana tetap tersaji secara menarik. Seperti yang sudah kusebutkan di atas, novel bergenre historical romance ini alurnya bisa ditebak. Bagi sebagian orang, alur novel yang semacam ini kurang menarik. Namun, kurasa justru di situlah tantangannya. Di sini kulihat penulis memasukkan percakapan yang menarik. Gaya tulisannya pun lincah. Barangkali memang demikian ya tuntutan menulis novel drama. Ibaratnya sama-sama membuat nasi goreng, tidak semua orang mampu membuat nasi goreng istimewa yang nagih.

Jika sebagian penerjemah kurang suka menerjemahkan cerita romance, aku toh tetap menikmatinya. Dengan menerjemahkan cerita semacam ini, aku bisa menambah kosakata yang berkaitan dengan emosi dan kata-kata deskriptif. Dalam menerjemahkan ini kuncinya adalah jangan bosan membuka kamus, terutama kamus ekabahasa (aku pakai kamus Longman). Selain itu membuat terjemahan yang mengalir dan enak dibaca tentu tetap menjadi tantangan seorang penerjemah buku (fiksi).

Oya, satu hal lagi, ternyata yang menyunting terjemahanku ini adalah Mas Agus, suami Teh Rini. Jadi, aku bisa mendapatkan masukan langsung. Aku paling senang mendapat masukan langsung dari editor, karena dengan begitu aku bisa belajar kan? Bagiku masukan seorang editor itu penting sekali bagi kemajuan penerjemah. Terus terang aku sangat menghargai editor yang masih sempat memberi masukan langsung dan detail kepada penerjemah karena hal itu memakan waktu kerjanya. Lagi pula, bukankah penerjemah dan editor itu adalah tim yang perlu bekerja sama dengan baik?

IMG_4463Judul asli: Sleepless in Scotland
Judul bahasa Indonesia: Terjaga di Skotlandia
Penulis: Karen Hawkins
Penerjemah: Krismariana
Editor: Agus Hadiyono
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Februari 2013
Ukuran buku: 11 x 18 cm
Tebal: 407 halaman

Menerjemahkan Buku Anak: Tentang Dua Dongeng

Bisakah kalian menebak, buku apa saja yang menjadi koleksiku? Ya, salah satu jenis buku yang kukoleksi adalah buku cerita anak. 😀 Aku lupa persisnya kapan aku mulai suka iseng membeli buku anak. Biasanya sih aku membelinya saat ada diskon besar. Soalnya, selisihnya bisa jauh sekali jika dibandingkan dengan harga normal. Lagi pula, memang aku pecinta diskon. *Emang ada yang nggak suka dikasih diskon?* Aku suka mengoleksi buku anak karena buku-buku anak itu mengajakku berfantasi. Kerap kali ceritanya lucu dan menghibur; pas banget dibaca saat sedang bete. Hehe. Tapi ada juga sih buku anak yang tidak lucu. Tapi yang jelas, aku sangat menikmati ilustrasi yang biasanya bertaburan di buku anak.

Nah, jadi aku tidak pernah menolak jika diberi tawaran menerjemahkan buku anak. Hitung-hitung untuk menambah koleksi. Meskipun banyak yang mengatakan menerjemahkan buku anak itu honornya kecil, tapi kalau cinta, kenapa tidak? 🙂

IMGBelum lama ini aku mendapatkan bukti buku terjemahanku. Judulnya Dongeng Dunia dan Dongeng Natal. Kedua buku ini adalah seri Dongeng Sepanjang Masa yang diterbitkan oleh BIP (Bhuana Ilmu Populer). Senang sekali bisa menerjemahkan kedua buku ini–dan tentu memiliki hasil terjemahannya. Dengan begitu, aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk menambah koleksiku. Gambar-gambar di dalamnya juga bagus. Cocok banget untuk koleksi dan … untuk belajar menulis cerita anak. 😉 IMG

Buku Kumpulan Kisah yang Menyegarkan Kehidupan Doa

Judul: Kuasa Doa Itu Nyata
Subjudul: Kumpulan kisah nyata yang membuktikan bahwa Allah bekerja melalui doa yang sederhana
Judul asli: Did You Get What You Prayed For?
Penerjemah: C. Krismariana W.
Penyunting: G. Dyah Paramita P. K.
Desain sampul: Adnan Yuniar Kumoro Jati
Fotografer: Maxdalena
Cetakan pertama (edisi bahasa Indonesia): Oktober 2007
Hak cipta terjemahan Indonesia: Gloria Graffa, Yogyakarta
Penerbit asli: Multnomah Books, Colorado

Kalau ditanya apa buku terjemahan yang mengesan bagiku, maka ini salah satu jawabannya. Buku ini kuterjemahkan ketika aku masih bekerja di Gloria. Sudah lama sekali ya? Sebagai editor, aku bisa mengajukan beberapa judul buku dari katalog. Nah, buku ini sudah sering kulihat di katalog, tapi sepertinya tidak pernah ada yang melirik. Bahkan penerbit rohani lainnya pun tidak mengambilnya. Ini memang buku lama, tapi kalau dilihat isinya tidak kadaluarsa. Aku senang sekali ketika penerbit tempatku bekerja mendapatkan kontrak untuk menerbitkan edisi bahasa Indonesia buku ini dan … aku diberi kepercayaan untuk menerjemahkannya! Yay! 🙂

Buku ini disusun oleh Nancy Jo Sullivan dan Jane A.G. Kise. Dua-duanya penulis. Aku sudah beberapa kali melihat nama Nancy Jo Sullivan pada buku kumpulan kisah. Buku lain yang ditulisnya adalah Moments of Grace dan My Sister, My Friend. Ia kerap menulis di Reader’s Digest, Guideposts, Focus on the Family. Adapun Jane A.G. Kise selain penulis, ia juga seorang konsultan manajemen dan pemberi seminar di Amerika Utara.

Buku berisi kumpulan kisah orang-orang yang berdoa. Di dalamnya ada 11 bab dan masing-masing bab itu memuat beberapa kisah. Salah satu bab yang menarik berjudul: Apakah Doaku Egois? Kadang-kadang aku merasa telah mengajukan permintaan yang egois–seolah-olah hanya untuk kepentingan diriku saja. Salahkah doa seperti itu salah? Di bagian awal bab dikutip kisah tentang Bartimeus, seorang pengemis buta yang disembuhkan Yesus. Bartimeus minta agar matanya dipulihkan. Kalau dipikir-pikir, permintaannya itu egois bukan? Namun di buku ini kemudian ditulis: Kisahmu mengatakan kepadaku bahwa aku dapat meminta karunia dari Allah. … Ada berapa banyak orang yang telah melihat kasih Allah dengan cara yang berbeda setelah mendengar kisahmu? (hal. 49). “Doa egois” itu dapat menjadi jalan bagi Tuhan untuk menunjukkan kasih-Nya. Setelah orang-orang melihat karunia itu, (diharapkan) mereka jadi terpanggil untuk semakin mengasihi Tuhan. Bab ini memuat tiga kisah, yang pertama tentang seorang anak yang meminta piano, yang kedua tentang seorang wanita yang meminta suami, dan ketiga kisah Nancy Jo Sullivan sendiri ketika ia ingin berziarah ke Israel.

Aku tersentuh oleh kisah-kisah dalam buku ini. Bagiku semuanya menarik dan memperkaya iman. Kisah-kisahnya menyegarkan kembali kehidupan doa dan membantu kita untuk menjalin relasi dengan Tuhan, yang senantiasa peduli terhadap kita.

Kabarnya buku ini termasuk laris. Aku tidak ingat sudah berapa kali cetak ulang, tapi yang terakhir gambar di sampul depannya diganti dengan gambar lilin dengan latar belakang cokelat. Sayang aku tidak punya foto sampul terbarunya.

Cerita Keluarga Hawk

Judul asli: Hawk’s Way, Callen & Zach
Contents: Headstrong Bride & Disobedient Bride
Pengarang: Joan Johnston
Tebal (buku asli): 296 halaman.
Penerbit buku asli: Harlequin Books S. A.
Penerbit edisi bahasa Indonesia: Glitzy Book Publishing

Ini bisa dibilang buku fiksi awal yang aku terjemahkan. Buku yang kuterima dari pihak penerbit satu, tapi ternyata berisi dua cerita. Novel ini menceritakan kakak-beradik dari keluarga Hawk.

Cerita yang pertama berjudul Headstrong Bride, kemudian diterjemahkan menjadi Mempelai Keras Kepala. Ceritanya tentang kisah cinta Callen Hawk dan Sam Longstreet. Mereka bertemu ketika ayah Sam meninggal. Meskipun bertetangga, mereka tidak dekat. Ceritanya, Callen berasal dari keluarga kaya, sedang Sam kebalikannya. Meskipun punya tanah peternakan yang luas Sam bisa dibilang tidak punya apa-apa karena peternakannya kurang maju. Hubungan mereka awalnya ditentang keluarga Callen, sedangkan Sam diam-diam punya alasan tersembunyi saat menikahi Callen. Seperti layaknya cerita-cerita senada, kisah ini berakhir bahagia.

Cerita kedua berjudul The Disobedient Wife, kemudian diterjemahkan menjadi Bukan Istri Penurut. Tokoh dalam cerita ini adalah Zach–kakak Callen–dan Rebecca. Zach mencari istri dengan memasang iklan di surat kabar. Rebecca ternyata sejak dulu sudah menyukai Zach. (Ayah Rebecca pernah bekerja pada keluarga Hawk.) Zach sebetulnya menikah karena ingin punya anak. Ternyata Rebecca tidak bisa memberinya anak. Tapi kemudian mereka bertemu Jewel, seorang anak perempuan yang akhirnya mereka adopsi. Meskipun awalnya kurang suka jika tidak punya anak sendiri, Zach akhirnya bisa menerima kehadiran anak angkatnya.

Jujur saja, ini buku seri Harlequin yang pernah kubaca. 😀 Jadi, waktu mengerjakan terjemahannya aku sembari baca-baca buku Harlequin yang lain untuk menambah kosakata.

Buku ini diterbitkan oleh Glitzy, salah satu imprint PT GPU.

Mengulik Sejarah Gereja

Judul: Sejarah
Subjudul: Apa yang membentuk gereja?
Judul buku asli: History
Penulis: Robert Don Hughes
Editor umum (buku asli): Karen Lee-Thorp
Penerjemah: C. Krismariana W.
Tim penyunting: Elisabeth I.P Chandra, Johan Setiawan, G. D. Paramita P.K, C. Widyo Hermawan, Sunandar
Desain isi dan sampul: Pulung Dananjaya
Penerbit: Yayasan Gloria & Katalis, November 2011
Ukuran: 13 x 19 cm
Tebal: 328 halaman

Buku ini mengupas sejarah gereja, lengkap dengan tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya, seperti misalnya Agustinus, Fransiskus Asisi, Martin Luther, dll. Para tokoh ini tidak pernah berniat mencatatkan namanya sebagai pahlawan dalam sejarah (gereja). Mereka hanya ingin tetap setia di hadapan Tuhan dan merindukan pembaruan di dalam gereja.

Dalam buku ini kita dapat menyimak berbagai gagasan dan pencapaian para tokoh tersebut. Kita pun dapat belajar dari kesalahan serta kekhilafan etis mereka. Kita dapat membaca bagaimana ketika mereka bergumul menggunakan iman dan rasio, serta melihat karya Roh Kudus yang melampaui kelemahan manusia di setiap zamannya.

Ketika menerjemahkan buku ini, aku mendapat wawasan banyak. Selain itu, aku juga dituntut untuk belajar dengan membuka-buka buku lain. Buku yang sering kubaca saat menerjemahkan buku ini adalah The Story of Christianity terbitan Kanisius, terutama untuk mengetahui jalur utama sejarah gereja dan untuk mengetahui nama para tokoh gereja dalam bahasa Indonesia. Tapi sepertinya pihak penerbit mempertahankan satu-dua nama/istilah asli si tokoh, misalnya Patrick. Sebagai orang Katolik, setahuku Patrick itu dalam bahasa Indonesia diubah menjadi Patrisius. Ini adalah salah satu santo yang dihormati dalam gereja Katolik. Begitu pula untuk istilah Friar Minor (hal. 156) sebetulnya biasanya diterjemahkan Saudara Dina di Indonesia, tetap dipertahankan. Tapi ya sudahlah lah ya? 😀 Mungkin pihak penerbit punya kebijakan tersendiri.

Buku ini disampaikan dengan bahasa yang cukup ringan. Bisa dibaca oleh siapa saja yang tertarik untuk mengenal sejarah gereja secara umum.

Belajar Ramah pada Lingkungan

Judul: Ramah Lingkungan
Subjudul: Kurangi, Pakai Kembali, Daur Ulang
Penulis: Nuria Roca
Ilustrasi: Rosa M. Curto
Penerjemah: C. Krismariana W.
Penyunting: Deesis Edith Mesiani
Redesain: Iwan Adriansyah Hasibuan
Penerbit: PT Bhuana Ilmu Populer
Ukuran: 24 x 24 cm
Tebal: 36 halaman

Ini buku ketiga dari seri Numbers of Life. Sesuai dengan judulnya, buku mengajak anak untuk lebih peduli pada lingkungan. Caranya adalah dengan menerapkan 3 R: Reuse (pakai kembali), Reduce (kurangi), dan Recycle (daur ulang).

Waktu menerjemahkan ini, aku agak bingung waktu mencari padanan istilah 3 R itu. Setahuku, istilah 3 R itu sudah populer. Jadi, akhirnya aku tetap memakai istilah itu, hanya saja aku terjemahkan masing-masing R-nya (reuse, reduce, recycle).

Ini buku yang paling aku sukai dari seri ini. Di sini anak-anak diajak untuk memilah sampah dan memanfaatkan kembali barang-barang di sekitarnya. Yang jadi masalah barangkali ketika anak melihat kondisi yang ada di masyarakat. Seperitnya masih sedikit ya yang memilah sampah. Salah satu kelemahan buku yang membahas 3 R ini adalah di Indonesia sendiri pemilahan sampah belum jadi kebiasaan. Tidak ada peraturan yang menuntut masyarakat melakukannya. Memang sudah ada tempat-tempat sampah yang membedakan antara sampah basah dan sampah kering. Tapi itu masih sedikit sekali. Dan apakah saat sudah dipilah begitu, di pembuangan sampah akhir juga diproses lebih lanjut? Aku sendiri kurang tahu.

Bagaimanapun, buku ini menarik. Sejak dini anak diajak untuk lebih peduli lingkungan.