Category: Uncategorized

Tips #1 Menulis Cerita: Menangkap Ide

Saat menulis cerita, kadang ide itu meluncur dari mana-mana. Aku pun kadang mendapat ide dari beberapa kejadian. Kadang kalau sudah mepet waktunya, aku wawancara beberapa orang dan tanya pendapat. Misalnya aku pernah bertanya ke seorang teman soal seperti apa sih rumah Jawa limasan itu? Waktu itu aku mau menulis soal tikus yang tinggal di sebuah rumah Jawa. Sudah kebayang tuh salah satu adegannya. Namun, aku masih blank soal setting tempat.

Menangkap ide itu susah-susah gampang. Kalau nemu cepet, ya senang. Kadang biarpun sudah melamun, sudah jalan ke sana kemari, tetap belum menemukan apa-apa. Paling susah kalau tiba-tiba dikontak editor: Sudah sampai mana ceritanya? Blaiiik… ketemu idene we durung, Maaasss/Mbaaak.

Ada satu hal yang sering kupakai saat aku tidak segera mendapat ide, yaitu membaca buku. Aku paling sering mengintip buku cerita anak. Pas membacanya, aku sambil mengamati. O… awalan membangun ceritanya begini, lalu raising action mulai paragraf sekian, dan seterusnya. Membaca buku cerita itu seperti mendekatkanku pada api, biar ketularan terbakar semangat menulis sekaligus mengamati ide-ide yang ditulis. Namun, tidak semua buku cerita bisa memantik ide. Kalau cerita yang ditulis itu tidak terlalu bagus, ujung-ujungnya malah bosen sendiri. Tapi teruslah mencari ide. Catat ide yang terlintas. Kadang biarpun remeh, sangat berarti pas paceklik ide.

Kamu sendiri, bagaimana caranya mendapatkan ide tulisan?

Advertisements

On Children Literature

Taman Kata

Maap, sok-sokan pakai judul bahasa Inggris. Soalnya bingung ngarang judulnya. 😀 😀 *Atau barangkali ada yang menyumbang judul?*

Beberapa minggu lalu, temanku memberiku informasi bahwa akan ada workshop penulisan cerita anak. Aku yang waktu itu sedang berpusing-pusing merampungkan terjemahan berpikir, iya deh, nanti aku daftar. Tapi menjelang hari H aku masih belum daftar juga. Lupa. Waktu itu aku berpikir untuk batal saja. Kurasa sudah tidak ada tempat lagi. Temanku bilang, coba saja daftar. Yah… iseng-iseng saja, apa salahnya. Lagi pula setelah kutimbang-timbang dan karena temanku bilang aku boleh bareng dia berangkatnya, aku pun menghubungi pihak panitia. Toh, workshop ini gratis.

Akhirnya Sabtu kemarin, tanggal 22 Maret aku ke Museum Nasional untuk ikut workshop tersebut. Di sana aku ketemu Mbak Wikan yang bekerja di Yayasan Lontar.

Bagaimana acaranya?

Hmm… jujur saja, menurutku biasa saja. Kalau untuk pemula, atau orang yang tidak tahu sama sekali bagaimana menulis cerita anak, kurasa lumayan lah…

View original post 852 more words