Lupa atau Malas?

Usia Januari tinggal empat hari lagi. Aku melongok rak buku dan blogku ini. Astaga, sudah lama sekali aku tidak memperbarui catatan mengenai buku-buku yang kuterjemahkan. Ini karena lupa atau malas?

Sepertinya karena dua-duanya.

Kalau begitu, kuunggah dulu foto seadanya ya. Paling tidak buat pengingat.

Beberapa hasil terjemahanku.

Apakah Kamu Cukup Berani untuk Memajang Tulisanmu?

Menulis itu butuh keberanian. Tidak hanya soal keterampilan dan isi, tetapi untuk menampilkan sebuah tulisan, butuh keberanian. Berani untuk malu, berani menerima kritik, berani diremehkan, dan seterusnya.

Beberapa teman rajin memuat postingan yang cukup panjang di FB. Kadang aku berpikir, kenapa mereka tidak menulis blog saja? Dengan blog, kita bisa menuangkan ide lebih banyak. Iya, sih FB sekarang juga bisa memajang tulisan yang cukup panjang, tetapi aku lebih suka menulis di blog dibanding di FB atau media sosial lain.

Dari tulisan-tulisan yang dipajang teman-temanku itu aku berpikir, untuk menulis dibutuhkan keberanian. Ini yang sepertinya tidak kupunyai. Mereka kadang menampilkan cerita yang kadang memalukan, tetapi tetap menarik.

Sementara itu, aku lebih suka menulis pendek-pendek saja di media sosial. Sisanya kupajang di blog yang lebih sering kudiamkan saja karena aku tidak suka tulisanku menjadi terlalu viral dan akhirnya berujung pada komentar-komentar pribadi yang juga ikut viral.

Kamu sendiri, apakah lebih suka menulis di akun media sosial dan senang kalau tulisan itu jadi viral?

 

Tips #1 Menulis Cerita: Menangkap Ide

Saat menulis cerita, kadang ide itu meluncur dari mana-mana. Aku pun kadang mendapat ide dari beberapa kejadian. Kadang kalau sudah mepet waktunya, aku wawancara beberapa orang dan tanya pendapat. Misalnya aku pernah bertanya ke seorang teman soal seperti apa sih rumah Jawa limasan itu? Waktu itu aku mau menulis soal tikus yang tinggal di sebuah rumah Jawa. Sudah kebayang tuh salah satu adegannya. Namun, aku masih blank soal setting tempat.

Menangkap ide itu susah-susah gampang. Kalau nemu cepet, ya senang. Kadang biarpun sudah melamun, sudah jalan ke sana kemari, tetap belum menemukan apa-apa. Paling susah kalau tiba-tiba dikontak editor: Sudah sampai mana ceritanya? Blaiiik… ketemu idene we durung, Maaasss/Mbaaak.

Ada satu hal yang sering kupakai saat aku tidak segera mendapat ide, yaitu membaca buku. Aku paling sering mengintip buku cerita anak. Pas membacanya, aku sambil mengamati. O… awalan membangun ceritanya begini, lalu raising action mulai paragraf sekian, dan seterusnya. Membaca buku cerita itu seperti mendekatkanku pada api, biar ketularan terbakar semangat menulis sekaligus mengamati ide-ide yang ditulis. Namun, tidak semua buku cerita bisa memantik ide. Kalau cerita yang ditulis itu tidak terlalu bagus, ujung-ujungnya malah bosen sendiri. Tapi teruslah mencari ide. Catat ide yang terlintas. Kadang biarpun remeh, sangat berarti pas paceklik ide.

Kamu sendiri, bagaimana caranya mendapatkan ide tulisan?

Teknik Menulis

(Ini adalah catatan pribadi dari workshop Room to Read & Litara plus obrolan di WA bersama teman-teman. Jadi, bukan sesuatu yang baku, ya.)

Setelah workshop dengan Room to Read & Litara diikuti dengan revisi yang bertubi-tubi, sekarang yang kulakukan adalah menunggu. Menunggu diminta revisi lagi atau menunggu terbitnya? Lihat saja nanti. Mbak editor cantik belum mengontakku lagi. Semoga naskahku baik-baik saja di tangan ilustrator dan editor.

Baiklah, hidup terus berjalan setelah proyek tersebut. Artinya, kalau mau menulis yang lain, lanjutkan sendiri dengan bekal yang sudah didapat di workshop. Untunglah kami punya grup di WhatsApps yang masih membicarakan soal tulis-menulis. Kalau tidak, barangkali aku bisa lupa apa saja yang sudah kupelajari.

Aku mencoba mengingat-ingat kembali langkah-langkah menulis yang kudapat dari workshop. Aku ingat betul, hari pertama dulu, Al (guru kami selama workshop) menunjukkan beberapa foto di layar. Ada sekitar 20-an foto kalau tidak salah. Lalu kami diminta berkumpul dalam kelompok-kelompok. Kami diminta memilih salah satu foto, lalu membuat cerita berdasarkan foto yang kami pilih. Aku tidak akan membicarakan soal cerita yang kami buat. Aku merasa melihat foto lalu membuat cerita adalah salah satu cara yang brilian untuk mendapatkan ide. Kadang kala aku mendengar ada orang berkata, “Bagaimana sih supaya dapat ide?” Kalau sedang buntu dan tidak tahu caranya mendatangkan ide, cara itu bisa dicoba.

Setelah ide didapat, untuk menulis fiksi, yang perlu diperhatikan adalah membuat karakter. Karakter yang kuat akan mempermudah membuat lika-liku cerita, karena karakter yang kuat dapat membangun plot. Jadi, jangan terbalik. Ingat baik-baik: character is plot, plot is character. Cerita dengan karakter yang lemah biasanya buruk. Karakter yang kuat memiliki tiga dimensi: fisik, psikologis, dan sosiologis. Salah satu caraku untuk mendeteksi apakah aku sudah kenal baik dengan karakterku adalah jika aku sudah bisa “mendengar suara” si tokoh. Dengan mengenal “suara”, aku bisa membayangkan seperti apa si tokoh yang kubuat ini. Salah seorang temanku mengatakan, membuat karakter itu seperti kalau kita sedang membicarakan orang lain. Sudah jelas orangnya, masalahnya jelas, poinnya jelas. Misalnya, kita sedang membicarakan Mbak Tukang Sayur yang selalu lewat depan rumah, orangnya sudah jelas itu, kan? Suaranya cempreng, posturnya tinggi besar, punya tahi lalat lima, kulitnya gelap, dan sebagainya, Intinya, kita mesti kenal baik dengan si tokoh. Hidupkan dia sampai benar-benar hidup.

Setelah membuat karakter, mulai pikirkan soal plot. Kalau karakter kita kuat–motivasinya kuat, objective-nya jelas–plot akan dengan mudah kita bangun. Membangun plot itu dimulai dengan menentukan mana bagian Begining – Middle -End dari cerita yang kita buat tersebut. Apakah kita mulai dari tengah, lalu mundur, lalu maju lagi? Atau mulai dari belakang, lalu perlahan-lahan maju? Itu terserah penulis. Tentukan poin-poin pentingnya.

Di workshop lalu, tugas kami adalah menulis picture book setebal 24 halaman. Untuk tulisan yang kelihatannya pendek begitu, kami diminta membuat versi cerpennya. Bagi sebagian orang, cara ini terlalu lama. Tapi bagiku, ini justru lebih membantu. Jadi, aku bisa “meliarkan” pikiran dan bebas mau menuangkan kata-kata. Cerpen ini bisa membantu ilustrator nantinya.

Cerpen selesai, kemudian mulai menentukan action mana yang akan dipakai dalam buku. Ini saatnya memilah-milah adegan. Bagiku, ini bagian yang sulit karena ibaratnya, mesti menyaring sari-sarinya.

Pada proses membuat cerpen dan memilah action, kita perlu melihat alur logika dan emosi. Jangan sampai terjadi perubahan emosi yang mendadak. Misalnya, anak yang semula bersikeras pengen sepeda, setelah dibilang orangtuanya tidak punya uang, dia langsung bisa menerima kenyataan dengan lapang dada. Kalau ini yang terjadi, ini menandakan karakter yang lemah, motivasinya tidak kuat. Oya, jangan lupa perhatikan alur logika.

Untuk menulis cerpen, cerbung, atau novel, kita bisa menghilangkan proses memilah action. Kita bisa langsung menulis setelah merancang karakter dan menentukan poin-poin penting yang akan dimunculkan dalam cerita.

Nah, selanjutnya mulailah menulis dan selesaikanlah! Sebaiknya endapkan cerita setelah kita menulisnya. Dengan mengendapkan cerita, biasanya kita bisa memolesnya menjadi lebih baik.

Oleh-oleh Workshop bersama Room to Read

Di tulisanku beberapa hari lalu di blogku yang isinya tulisan sehari-hari, aku menulis pengalamanku ikut workshop yang diadakan Room to Read. Silakan baca pengalamanku itu di sini.

Pada hari terakhir workshop, kami duduk melingkar lalu setelah melakukan permainan bersama, Al–pemateri utama workshop–mengajukan pertanyaan: Apa yang akan kalian bawa pulang dari workshop ini? Kami satu per satu diminta menjawab pertanyaan itu. Ketika tiba giliranku, aku menjawab ada dua hal yang akan kubawa pulang. Pertama adalah ingatan ketika melihat bajing yang berlarian di pepohonan yang ada di seberang beranda kamarku. Beberapa kali aku menyaksikan bajing-bajing itu berlarian. Lucu sekali. Mereka mengingatkanku pada dua tokoh kartun: Kiki dan Koko. Dan yah, aku senang sekali berlama-lama di beranda kamarku itu. Pemandangannya segeeer banget. Hijau. Hawanya sejuk. Menenteramkan. Hanya saja, kalau petang, dingiiin sekali. Kapan ya bisa menginap di sana lagi?

Kedua, hal yang kuingat adalah soal pentingnya membangun karakter. Selama ini ketika membuat cerita, aku seringnya memikirkan plotnya. Karakter nanti dulu ah, begitu pikirku. Aku berusaha memikirkan kira-kira twist apa yang akan kupakai. Iya, plot juga penting. Tapi membangun cerita dengan membuat karakter yang kuat ternyata sangat penting.

Karakter yang kuat memiliki tiga dimensi:

  • Fisik (fisiologis): Seperti apa gambaran fisik karakter kita ini? Apakah dia gemuk? Kurus? Jangkung? Kalau dia kucing, misalnya, apakah bulunya garis-garis? Bagaimana matanya? Dan seterusnya.
  • Internal (psikologis): Seperti apa sifat karakter yang ada dalam karya kita? Apakah dia pemalas? Penakut? Suka makan? Periang?
  • Eksternal (sosiologis): Bagaimana lingkungan tempat dia berada? Apakah dia di kota? Di hutan yang penuh semak duri? Apakah dia di pinggir sungai?

Ketiga hal itu perlu dibangun sejelas mungkin sejak awal.

Selanjutnya, kita perlu mengajukan beberapa pertanyaan:
1. Sejauh mana karakter yang kita buat itu tercermin dan mewarnai cerita kita? Apakah sudah tergambar jelas di dalam cerita? Jangan sampai penggambaran karakter yang kita susun di awal justru tidak tergambar jelas dalam cerita.

2. Apa yang dilakukan karakter kita? Apa motivasinya?
Karakter kita perlu memiliki motivasi yang kuat. Misalnya, tokoh kita seorang kakek. Dia memarahi anak-anak yang memetik mangga di depan rumahnya. Apa alasannya dia berbuat seperti itu? Apakah mangganya itu akan dia jual untuk keperluan hidupnya? Apakah dia sakit gigi? Buat alasan yang logis sehingga motivasi itu kuat. Hal itu akan mempengaruhi jalan cerita kita.

3. Perubahan apa yang dialami karakter kita? Bagaimana kondisinya di awal dan di akhir cerita?
Perubahan ini perlu dibuat mengalir dengan halus. Misalnya, jika di awal si kakek itu marah, bagaimana di akhir cerita? Apakah dia menjadi ramah terhadap anak-anak? Apakah ada alur yang terlompati dalam perubahan sifatnya?

Sepertinya aku perlu banyak latihan dalam membangun karakter yang kuat. Dan… jangan sampai aku bosan melakukan revisi. 😀 😀

On Children Literature

Taman Kata

Maap, sok-sokan pakai judul bahasa Inggris. Soalnya bingung ngarang judulnya. 😀 😀 *Atau barangkali ada yang menyumbang judul?*

Beberapa minggu lalu, temanku memberiku informasi bahwa akan ada workshop penulisan cerita anak. Aku yang waktu itu sedang berpusing-pusing merampungkan terjemahan berpikir, iya deh, nanti aku daftar. Tapi menjelang hari H aku masih belum daftar juga. Lupa. Waktu itu aku berpikir untuk batal saja. Kurasa sudah tidak ada tempat lagi. Temanku bilang, coba saja daftar. Yah… iseng-iseng saja, apa salahnya. Lagi pula setelah kutimbang-timbang dan karena temanku bilang aku boleh bareng dia berangkatnya, aku pun menghubungi pihak panitia. Toh, workshop ini gratis.

Akhirnya Sabtu kemarin, tanggal 22 Maret aku ke Museum Nasional untuk ikut workshop tersebut. Di sana aku ketemu Mbak Wikan yang bekerja di Yayasan Lontar.

Bagaimana acaranya?

Hmm… jujur saja, menurutku biasa saja. Kalau untuk pemula, atau orang yang tidak tahu sama sekali bagaimana menulis cerita anak, kurasa lumayan lah…

View original post 852 more words

Cock Up (one’s) Toe

Baru-baru ini aku merasa jatuh cinta. Jatuh cinta pada pekerjaanku sebagai penerjemah. Dulu kupikir, menjadi penerjemah itu bekalnya hanya hapal kamus. Itu dulu. Sekarang sih mikirnya, “Wiiih… gile, kamus dihapal? Emang sanggup?”

Jelas tidak. Itu tak perlu dipertanyakan lagi.

Menjadi penerjemah itu mesti rajin buka kamus. Dan untunglah sekarang zaman internet. Jadi, kalau kesandung kata/frasa/konteks yang membuat kening berkerut, senjatanya adalah googling. Sebelumnya tentu aku buka-buka kamus luring atau bongkar koleksi kamusku.

Barusan aku menemukan kata cock up his toes di salah satu teks yang kuterjemahkan. Awalnya aku mencari padanan frasa cock up. Di kamus Oxford, aku menemukan arti cock up adalah to ruin something by doing it badly, or by making a careless or stupid mistake. Jadi, kupikir ini artinya orang tersebut melakukan kesalahan konyol.

Eh, tapi tunggu dulu. Kan ada kata toe di situ. Aku bongkar-bongkar kamus lagi, tidak menemukan arti frasa cock up (one’s) toe. Aku pun googling daaan… akhirnya nemu di sini. Ternyata cock up (one’s) toes artinya to die alias orang tersebut meninggal.

Rasanya senang bisa menemukan arti kata itu. Dan itu memang cocok dengan kalimat yang kuterjemahkan. Rasanya seperti menemukan keping puzzle yang nyangkut entah di mana. 🙂

Jadi penerjemah itu asyik kan?