Koleksi Kamus Eka Bahasa

Aku mengenal kamus eka bahasa (Inggris-Inggris) sejak aku SMA. Kamus yang kukenal pertama itu terbitan Oxford, tampangnya jadul, dan itu pun suatu pemberian. Pertama kali mengenalnya, aku antara senang dan bingung. Senang karena aku merasa kamus itu adalah kamus jenis baru yang kukenal. Bingung? Jelas bingung karena aku tidak langsung mendapatkan padanan kata dalam bahasa Indonesia, tapi penjelasan kata tersebut dalam bahasa Inggris. Tapi sesungguhnya hal itu mencerahkan.

Ketika kuliah di Sastra Inggris, aku mulai cukup sering memakai kamus eka bahasa. Waktu itu banyak temanku yang membeli kamus eka bahasa keluaran baru. Aku lupa terbitan mana, tapi seingatku Oxford juga. Aku tidak ikut membeli kamus yang baru karena aku bisa memakai kamus jadul yang kupunyai itu. Ketika kuliah aku berusaha seirit mungkin dalam mengeluarkan uang. Aku tidak ingin terlalu sering minta uang pada orang tuaku. Dan lagi, ketika itu aku beberapa kali mendapat lungsuran atau pinjaman buku dari kakak kelas yang tinggal di asrama. Itu salah satu keuntungan tinggal di asrama. πŸ™‚ Namun, kadang aku agak menyesal juga tidak membeli beberapa buku diktat kuliah. Aku beli dan kadang fotokopi beberapa buku sih, tapi tidak selengkap teman-temanku yang lain.

Ketika lulus dan mulai bekerja di sebuah penerbitan, aku membeli sebuah kamus eka bahasa keluaran Longman. Menurutku saat itu, kamus tersebut adalah kamus paling keren yang aku miliki. Kamus itu disertai CD, jadi sangat praktis kupakai saat aku memakai komputer. Kamus itu kupakai sampai sekarang.

Selain kamus keluaran Longman, aku pernah mendapat kamus eka bahasa Merriam-Webster. Kamus ini juga pemberian. Awalnya sebetulnya aku nitip sepupuku untuk dibelikan kamus. Tapi ternyata dia tidak mau diganti uangnya. πŸ˜€ Pernah juga aku mendapat kamus eka bahasa yang disertai thesaurus. Selain itu, aku membeli dua kamus thesaurus, yang satu ukuran saku, yang satu lagi lebih besar. Keduanya keluaran Oxford. Sengaja aku beli kamus saku supaya bisa dibawa-bawa saat bepergian. Pernah aku iseng membawa kamus saku tersebut untuk kubaca-baca dalam bus kota. πŸ˜€

Beberapa waktu yang lalu aku terbujuk untuk membeli kamus eka bahasa keluaran Oxford edisi 8. Kabarnya kamus ini terdapat penambahan kata-kata baru. Akhirnya, setelah kutimbang-timbang, akhirnya aku beli juga. Jadi aku sekarang memakai kamus Longman dan Oxford untuk bekerja di rumah (offline).

Bujukan kedua untuk membeli kamus muncul kembali ketika aku tahu ada kamus Oxford Collocations. Kamus sangat membantu jika kita hendak menulis dalam bahasa Inggris. Kamus ini semacam panduan untuk mencari pasangan kata yang pas sehingga ketika kita membuat kalimat jadi terdengar wajar. Misalnya, kata house biasanya ditemani kata sifat: beautiful, comfortable, elegant, fancy, dll.

Aku merasa terbantu dengan kedua kamus Oxford terakhir yang kumiliki itu. Pertama, jelas dalam kamus itu kita bisa menemukan penjelasan arti suatu kata. Jadi kita lebih bisa menangkap “rasa” suatu kata. Yang kedua, masing-masing kamus itu disertai latihan. Asyik lo iseng-iseng mencoba latihan yang ada pada dua kamus itu.

Kurasa seorang penerjemah (dan penulis) perlu memiliki kamus eka bahasa yang bisa diandalkan. Memang di internet kita bisa melongok berbagai kamus eka bahasa. Namun, tidak selamanya kita bisa membuka internet kan? Nah, kamus eka bahasa apa yang kamu miliki?

Tentang Sleepless yang Romantis

Bisa dibilang, aku masih pemula dalam penerjemahan novel berbau romantis. Tapi sebetulnya aku lumayan menikmati. Menikmati ceritanya, dan saat menerjemahkan novel drama romantis aku belajar tentang penulisan novel serupa. Kalau dilihat plotnya, novel-novel semacam ini memiliki alur yang serupa. Happy ending. Semua bahagia dan mungkin banyak ya yang menyukai akhir kisah yang bahagia ya?

Belum lama ini aku mendapat bukti terjemahanku berjudul Sleepless in Scotland–Terjaga di Skotlandia karya Karen Hawkins. Novel ini berakhir manis. Ceritanya dimulai ketika Caitriona hendak menyelamatkan saudari kembarnya, Caitlyn. Saudari kembarnya ini kabarnya akan menjalankan rencana konyol yang bisa mencoreng nama baiknya sendiri dan tentu saja bisa menghancurkan kehormatan keluarga mereka. Caitlyn hendak menjebak kakak Hugh MacLean–Alexander–supaya melamarnya. Idenya? Caitlyn akan bersembunyi di dalam kereta yang ditumpangi Alexander.

Dalam rangka penyelamatan itu, akhirnya Caitriona justru terlibat yang rumit. Akhirnya dia sendiri harus menikah dengan Hugh, semata-mata untuk menjaga kehormatannya sendiri dan keluarga. Apa yang dialami Caitriona selanjutnya?

Di sela-sela menerjemahkan novel ini, aku ikut lokakarya penerjemahan sastra. Jadi, pelajaran yang kudapat dalam lokakarya itu bisa kuterapkan langsung–terutama soal membuat kalimat efektif.

Satu hal yang kudapat dari novel ini adalah mengenai penulisan sebuah novel, terutama bagaimana membuat ide yang sederhana tetap tersaji secara menarik. Seperti yang sudah kusebutkan di atas, novel bergenre historical romance ini alurnya bisa ditebak. Bagi sebagian orang, alur novel yang semacam ini kurang menarik. Namun, kurasa justru di situlah tantangannya. Di sini kulihat penulis memasukkan percakapan yang menarik. Gaya tulisannya pun lincah. Barangkali memang demikian ya tuntutan menulis novel drama. Ibaratnya sama-sama membuat nasi goreng, tidak semua orang mampu membuat nasi goreng istimewa yang nagih.

Jika sebagian penerjemah kurang suka menerjemahkan cerita romance, aku toh tetap menikmatinya. Dengan menerjemahkan cerita semacam ini, aku bisa menambah kosakata yang berkaitan dengan emosi dan kata-kata deskriptif. Dalam menerjemahkan ini kuncinya adalah jangan bosan membuka kamus, terutama kamus ekabahasa (aku pakai kamus Longman). Selain itu membuat terjemahan yang mengalir dan enak dibaca tentu tetap menjadi tantangan seorang penerjemah buku (fiksi).

Oya, satu hal lagi, ternyata yang menyunting terjemahanku ini adalah Mas Agus, suami Teh Rini. Jadi, aku bisa mendapatkan masukan langsung. Aku paling senang mendapat masukan langsung dari editor, karena dengan begitu aku bisa belajar kan? Bagiku masukan seorang editor itu penting sekali bagi kemajuan penerjemah. Terus terang aku sangat menghargai editor yang masih sempat memberi masukan langsung dan detail kepada penerjemah karena hal itu memakan waktu kerjanya. Lagi pula, bukankah penerjemah dan editor itu adalah tim yang perlu bekerja sama dengan baik?

IMG_4463Judul asli: Sleepless in Scotland
Judul bahasa Indonesia: Terjaga di Skotlandia
Penulis: Karen Hawkins
Penerjemah: Krismariana
Editor: Agus Hadiyono
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Februari 2013
Ukuran buku: 11 x 18 cm
Tebal: 407 halaman

Menerjemahkan Buku Anak: Tentang Dua Dongeng

Bisakah kalian menebak, buku apa saja yang menjadi koleksiku? Ya, salah satu jenis buku yang kukoleksi adalah buku cerita anak. πŸ˜€ Aku lupa persisnya kapan aku mulai suka iseng membeli buku anak. Biasanya sih aku membelinya saat ada diskon besar. Soalnya, selisihnya bisa jauh sekali jika dibandingkan dengan harga normal. Lagi pula, memang aku pecinta diskon. *Emang ada yang nggak suka dikasih diskon?* Aku suka mengoleksi buku anak karena buku-buku anak itu mengajakku berfantasi. Kerap kali ceritanya lucu dan menghibur; pas banget dibaca saat sedang bete. Hehe. Tapi ada juga sih buku anak yang tidak lucu. Tapi yang jelas, aku sangat menikmati ilustrasi yang biasanya bertaburan di buku anak.

Nah, jadi aku tidak pernah menolak jika diberi tawaran menerjemahkan buku anak. Hitung-hitung untuk menambah koleksi. Meskipun banyak yang mengatakan menerjemahkan buku anak itu honornya kecil, tapi kalau cinta, kenapa tidak? πŸ™‚

IMGBelum lama ini aku mendapatkan bukti buku terjemahanku. Judulnya Dongeng Dunia dan Dongeng Natal. Kedua buku ini adalah seri Dongeng Sepanjang Masa yang diterbitkan oleh BIP (Bhuana Ilmu Populer). Senang sekali bisa menerjemahkan kedua buku ini–dan tentu memiliki hasil terjemahannya. Dengan begitu, aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk menambah koleksiku. Gambar-gambar di dalamnya juga bagus. Cocok banget untuk koleksi dan … untuk belajar menulis cerita anak. πŸ˜‰ IMG

Setahun Kemarin, Ngapain Saja?

Menurutku itu adalah pertanyaan yang gampang-gampang sulit untuk dijawab. Mungkin bisa dibilang, tahun kemarin adalah tahun galau, tapi sudah mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Dan perbaikan itu baru mulai terjadi di pengujung tahun.

Agak sulit bagiku untuk menjelaskan secara detail mengapa hal itu bisa terjadi. Namun, intinya adalah berkaitan dengan kondisi fisikku yang tidak prima. Aku ada masalah hormonal. Sebetulnya bisa dibilang sepele, tapi sangat mengganggu. Dan memang mengganggu pekerjaanku sih karena aku belum menemukan pengobatan yang pas. Hal itu membuatku bingung dan stres. Tapi untunglah tangan Tuhan selalu menolong dan akhirnya aku bertemu dengan dokter yang bisa membantuku mengatasi masalahku. Puji Tuhan.

Mengingat tahun kemarin, aku seperti menyaksikan bagaimana Tuhan masih memakai diriku–yang sama sekali tidak sempurna dan bandelnya setengah mati ini. Tuhan masih saja memberiku rejeki dengan memberiku pekerjaan. Sungguh, kini aku melihat bahwa pekerjaan-pekerjaan yang diberikan Tuhan kepadaku sampai saat ini adalah semata-mata karena kebaikan-Nya.

Tahun kemarin aku memutuskan untuk ikut HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia). Untunglah dari pengalamanku menerjemahkan beberapa buku, aku bisa langsung menjadi anggota tetap. Sebelumnya aku agak kurang yakin, gabung HPI nggak ya? Tapi akhirnya aku memutuskan untuk bergabung dan oke juga. Setidaknya aku bisa mendapat wawasan lebih banyak yang memperkaya profesiku sekarang: penerjemah. Aku berharap bisa terus mengasah keterampilan dengan tergabung di HPI.

Setahun kemarin, rasanya tidak terlalu banyak buku yang kuterjemahkan. Namun, ada satu buku yang kuterjemahkan dari Penerbit Kanisius yang sangat mengesankan, judulnya Broken Open. Nanti kalau sudah terbit, aku akan mengulasnya.

Ada beberapa buku anak dari BIP yang kuterjemahkan juga. Aku sangat menerjemahkan buku-buku anak. Sayangnya sampai hari ini aku belum mendapatkan kiriman nomor buktinya.

Di antara buku-buku yang kuterjemahkan, ada buku yang aku merasa kurang puas dalam mengerjakannya. Jujur saja, aku masih merasa berat membicarakannya di sini. Yang jelas, itu adalah pengalaman yang berharga bagiku.

Tahun 2012 kemarin aku mendapat kesempatan ikut Workshop Penerjemahan Sastra, di Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta. Lokakarya itu betul-betul memberiku pencerahan. Aku mendapat banyak hal di situ. Dan sepertinya, lokakarya ini membuatku lebih percaya diri dan mengikis kekuranganku yang ada di sana-sini. Aku senang sekali bisa mengikutinya.

Mulai tahun kemarin aku mulai mencoba mengerjakan terjemahan fiksi. Hore. πŸ™‚ Ini termasuk hal baru bagiku. (Sebelumnya aku banyak mengerjakan buku-buku rohani Kristen. Tapi aku masih ingin tetap mendapat proyek terjemahan buku/teks rohani. Bagiku ini adalah suatu bentuk pelayanan.)

Ada lagi satu hal baru yang kukerjakan, yaitu subtitling film. Judul filmnya: Boncengan. Ini adalah film anak-anak yang menceritakan kecurangan yang dilakukan anak-anak saat ikut lomba lari. Film ini diproduksi oleh YSG (Yayasan Sahabat Gloria), yang memang punya kepedulian pada pendidikan anak-anak. Bisa dibilang, mengerjakan subtitling ini gampang-gampang susah (karena aku belum terbiasa sih). Ini adalah film pendek, jadi dialognya tidak panjang. Susahnya adalah karena film kan bahasa lisan (dan beberapa bahasa Jawa), sementara aku lebih sering dengan bahasa tulis. Waktu mengerjakannya, aku berkolaborasi dengan suamiku. Hehehe. Dan, aku senang ketika film ini mendapat penghargaan sebagai film pendek yang mencerminkan kearifan lokal. Yeay!

Tahun 2012 kemarin aku masih diberi kepercayaan oleh YSG untuk menulis komik lanjutan seri BITU. Cerita yang diangkat kali ini adalah tentang tanggung jawab. Belum terbit sih. Ini adalah komik ketiga dari serial BITU. Rencananya komik ini akan diberikan kepada anak-anak sanggar asuhan YSG. Kalau sudah terbit, nanti akan kuulas di sini.

Oya, satu lagi, tahun 2012 kemarin aku menulis renungan anak-anak Footprints dan ada tulisanku yang masuk dalam Renungan Harian. Menulis renungan, meskipun pendek, tapi sangat menantang! πŸ™‚

Tahun 2013 ini aku berharap bisa mengejar ketinggalanku di tahun kemarin. Semangaaat!

Cerita Tentang Jejak-jejak Kaki

Judulnya kayaknya puitis. Tapi sebetulnya yang kuceritakan tidak ada unsur puitisnya kupikir. πŸ˜€

Beberapa bulan yang lalu, aku bertemu Kak Tina, mantan atasanku. Dia cerita kini ia bersama beberapa kawan Mas Wawan, Mas Arie Saptaji, dan Mas Agus DC membuat renungan untuk anak-anak. Memang setahuku Kak Tina punya passion terhadap anak-anak dan Sekolah Minggu. Renungan yang mereka buat berjudul Footprints (jejak kaki). Sampai tulisan ini dibuat, renungan itu kini sudah sampai volume 7.

Waktu kami bertemu, Kak Tina mengajakku untuk ikut menyumbangkan tulisan. Wah, senang deh dapat tawaran seperti itu. πŸ™‚

Karena untuk anak-anak, renungan itu isinya singkat. Isinya ada ayat Alkitab, lalu diikuti uraian singkat. Setelah itu ada doa dan aktivitas. Oya, aktivitas kadang diganti dengan “tahukah kamu” yang berhubungan dengan isi renungan tersebut.

Sebelum menulis renungan untuk Footprints, aku minta ke Kak Tina contoh renungan yang sudah terbit. Setelah membacanya, aku dengan sombongnya berpikir: “Ah, kayaknya gampang nih!” Tapi begitu aku mengirimkan ke redaksi, tulisanku ada yang ditolak dan ada yang diedit habis-habisan. Wah, aku agak tertampar rasanya. Meskipun isinya paling dua paragraf, ternyata menulis renungan untuk anak-anak tidak bisa dianggap enteng. Membahasakan pesan Alkitab kepada anak-anak ternyata bukan pekerjaan mudah. Itu bagiku sih. Entah bagi yang lain.

Untuk menulis renungan tersebut, aku berbekal beberapa versi Alkitab (aku pakai Sabda), buku tafsir, dan sesekali googling. Kadang setelah “semedi” beberapa jam, belum tentu bisa menghasilkan tulisan. Tapi kadang ya bisa lancar. Selain itu, yang cukup menantang adalah waktu membuat aktivitasnya. Menurutku, ini lebih susah daripada menulis renungannya. πŸ˜€

Sampai volume 7, tulisanku yang termuat sudah ada 7. Dan semoga aku bisa terus menulis untuk anak-anak. πŸ™‚

Footprints Vol. 3 dan 4
Footprints Vol. 3 dan 4

 

Tulisanku yang sebelah kiri :)
Tulisanku yang sebelah kiri πŸ™‚

Untuk mengetahui Renungan Footprints lebih jauh, silakan melihat ke situs: http://www.footprints-pub.com atau kirim email ke: info@footprints-pub.com atau SMS ke: 0838 693 999 39.

Buku Kumpulan Kisah yang Menyegarkan Kehidupan Doa

Judul: Kuasa Doa Itu Nyata
Subjudul: Kumpulan kisah nyata yang membuktikan bahwa Allah bekerja melalui doa yang sederhana
Judul asli: Did You Get What You Prayed For?
Penerjemah: C. Krismariana W.
Penyunting: G. Dyah Paramita P. K.
Desain sampul: Adnan Yuniar Kumoro Jati
Fotografer: Maxdalena
Cetakan pertama (edisi bahasa Indonesia): Oktober 2007
Hak cipta terjemahan Indonesia: Gloria Graffa, Yogyakarta
Penerbit asli: Multnomah Books, Colorado

Kalau ditanya apa buku terjemahan yang mengesan bagiku, maka ini salah satu jawabannya. Buku ini kuterjemahkan ketika aku masih bekerja di Gloria. Sudah lama sekali ya? Sebagai editor, aku bisa mengajukan beberapa judul buku dari katalog. Nah, buku ini sudah sering kulihat di katalog, tapi sepertinya tidak pernah ada yang melirik. Bahkan penerbit rohani lainnya pun tidak mengambilnya. Ini memang buku lama, tapi kalau dilihat isinya tidak kadaluarsa. Aku senang sekali ketika penerbit tempatku bekerja mendapatkan kontrak untuk menerbitkan edisi bahasa Indonesia buku ini dan … aku diberi kepercayaan untuk menerjemahkannya! Yay! πŸ™‚

Buku ini disusun oleh Nancy Jo Sullivan dan Jane A.G. Kise. Dua-duanya penulis. Aku sudah beberapa kali melihat nama Nancy Jo Sullivan pada buku kumpulan kisah. Buku lain yang ditulisnya adalah Moments of Grace dan My Sister, My Friend. Ia kerap menulis di Reader’s Digest, Guideposts, Focus on the Family. Adapun Jane A.G. Kise selain penulis, ia juga seorang konsultan manajemen dan pemberi seminar di Amerika Utara.

Buku berisi kumpulan kisah orang-orang yang berdoa. Di dalamnya ada 11 bab dan masing-masing bab itu memuat beberapa kisah. Salah satu bab yang menarik berjudul: Apakah Doaku Egois? Kadang-kadang aku merasa telah mengajukan permintaan yang egois–seolah-olah hanya untuk kepentingan diriku saja. Salahkah doa seperti itu salah? Di bagian awal bab dikutip kisah tentang Bartimeus, seorang pengemis buta yang disembuhkan Yesus. Bartimeus minta agar matanya dipulihkan. Kalau dipikir-pikir, permintaannya itu egois bukan? Namun di buku ini kemudian ditulis: Kisahmu mengatakan kepadaku bahwa aku dapat meminta karunia dari Allah. … Ada berapa banyak orang yang telah melihat kasih Allah dengan cara yang berbeda setelah mendengar kisahmu? (hal. 49). “Doa egois” itu dapat menjadi jalan bagi Tuhan untuk menunjukkan kasih-Nya. Setelah orang-orang melihat karunia itu, (diharapkan) mereka jadi terpanggil untuk semakin mengasihi Tuhan. Bab ini memuat tiga kisah, yang pertama tentang seorang anak yang meminta piano, yang kedua tentang seorang wanita yang meminta suami, dan ketiga kisah Nancy Jo Sullivan sendiri ketika ia ingin berziarah ke Israel.

Aku tersentuh oleh kisah-kisah dalam buku ini. Bagiku semuanya menarik dan memperkaya iman. Kisah-kisahnya menyegarkan kembali kehidupan doa dan membantu kita untuk menjalin relasi dengan Tuhan, yang senantiasa peduli terhadap kita.

Kabarnya buku ini termasuk laris. Aku tidak ingat sudah berapa kali cetak ulang, tapi yang terakhir gambar di sampul depannya diganti dengan gambar lilin dengan latar belakang cokelat. Sayang aku tidak punya foto sampul terbarunya.

Cerita dari Balik Layar

Sejak resmi tidak menjadi pegawai kantoran lagi, aku agak kesulitan ketika mendapat pertanyaan: “Anda dari mana?” Maksudnya “dari mana” di sini bukan menanyakan asal daerahku, melainkan soal instansi tempat aku bekerja. Dulu aku dengan mudah menyebutkan nama perusahaan atau penerbit tempat aku bekerja. Namun, sekarang tidak lagi.

Kini aku betul-betul menjadi seorang penerjemah. Ya, sebagian besar waktuku kuhabiskan untuk menerjemahkan buku. Hanya sesekali saja aku menulis. Kadang itu pun hanya tulisan permintaan teman. Kadang hanya pekerjaan “pro bono”. Selama aku sejalan dengan visi dan misi dari pekerjaan pro bono itu, sebetulnya tidak terlalu masalah. Tapi kalau pro bono-nya kebanyakan, bisa-bisa aku justru nombok. Jelas aku menghindari hal itu. Kalau dulu masih mendapat gaji setiap bulan, sedikit-sedikit pro bono ya tak apalah. Anggap saja seperti kolekte. πŸ˜€

Sejak betul-betul tak bernaung pada instansi mana pun, aku harus membiasakan diri untuk menjawab apa pekerjaanku. Tidak semua orang paham apa artinya menjadi penerjemah. Seperti misalnya ketika aku membuka rekening di bank, aku wajib menjawab apa pekerjaanku saat ini. Ketika kujawab, “Penerjemah,” ibu cantik yang bertugas di belakang meja berlabelΒ customer service mengerutkan kening. “Saya isi sebagai wiraswasta saja ya?” Aku malas berdebat dan menjelaskan panjang lebar. Jadi, aku iyakan saja.

Tadi siang, ketika aku ke Indonesia Book Fair, aku masuk sebuah stand penerbit. Saat membayar belanjaanku, salah seorang bapak yang bertugas di situ bertanya, “Mbak dari mana?” Sekali lagi aku tak tahu harus menjawab apa. Aku balik bertanya, “Maksudnya, asal saya, pekerjaan saya, atau bagaimana?” Si bapak menjawab, “Pekerjaan Mbak.” Oh … ya mbok ngobrol. “Saya penerjemah, Pak.” Kebetulan aku membeli sebuah bukuΒ yang dulu kuedit dari penerbit itu . “Dulu saya yang mengedit buku ini,” lanjutku sambil mengambil salah satu buku yang kubeli. “Saya ingin memiliki lagi. Seingat saya nomor buktinya dulu saya berikan kepada orang lain.” Walaupun penerjemah dan editor berlainan pekerjaannya, semoga bapak itu tahu bahwa pekerjaanku berkaitan dengan pengerjaan buku. Toh, dia bekerja di penerbit, kan?

Saat menulis ini, aku jadi teringat status salah seorang dosenku. Dia menulis kutipan: Translator is a performer without a stage (Wechsler, 1998). Seorang penerjemah bagaikan pelakon tanpa panggung. Memang ada benarnya. Lagi-lagi contohnya kudapat ketika aku ke IBF tadi siang. Di stand sebuah penerbit yang cukup besar (nggak usah disebut namanya ya, toh tidak banyak kan yang bisa disebut penerbit besar hehe), ada banner yang memajang pengumuman bahwa akan ada acara “book signing” (tanda tangan) buku XYZ oleh sang pengarang. Buku XYZ itu adalah buku yang kuterjemahkan. Tapi di banner itu jelas tidak tertulis namaku. Haha. Dan sampai sekarang aku belum pernah menjumpai acara penandatanganan sebuah buku oleh penerjemahnya. Bagiku itu tidak masalah. Toh honorku sudah dibayar. πŸ˜€

Memang tidak banyak orang yang memerhatikan seorang penerjemah. Mungkin hanya orang-orang yang berprofesi sebagai penerjemah yang memberikan perhatian kepada (karya-karya) beberapa penerjemah yang sudah dianggap senior. Misalnya saja penerjemah buku-buku yang kita nikmati semasa anak-anak atau pra-remaja: Pak Agus Setiadi, Pak Djokolelono, Bu Listiana, Bu Maria A. Rahartati Bambang. Pernah dengar namanya? Nama mereka bisa dilihat dalam buku-buku seri Lima Sekawan, Sapta Siaga, Pasukan Mau Tahu, STOP, Asterix, dll. Berkat beliau kita bisa membaca seri-seri itu dengan nikmat, seolah bukan buku terjemahan. Itu tidak mudah lo. Kalau mau iseng, coba bandingkan hasil terjemahan mereka dengan buku aslinya. Kalau isengnya masih kurang, coba kalian terjemahkan satu atau dua paragraf, setelah itu bandingkan dengan hasil terjemahan mereka. Kalau sama nikmatnya, mungkin kalian bisa melamar menjadi penerjemah ke sebuah penerbit. Membuat terjemahan yang betul-betul enak dibaca butuh “jam terbang” yang tinggi. Meskipun di belakang layar, kadang penerjemah pun harus salto lo! πŸ˜€