Tag: Room to Read

Oleh-oleh Workshop bersama Room to Read

Di tulisanku beberapa hari lalu di blogku yang isinya tulisan sehari-hari, aku menulis pengalamanku ikut workshop yang diadakan Room to Read. Silakan baca pengalamanku itu di sini.

Pada hari terakhir workshop, kami duduk melingkar lalu setelah melakukan permainan bersama, Al–pemateri utama workshop–mengajukan pertanyaan: Apa yang akan kalian bawa pulang dari workshop ini? Kami satu per satu diminta menjawab pertanyaan itu. Ketika tiba giliranku, aku menjawab ada dua hal yang akan kubawa pulang. Pertama adalah ingatan ketika melihat bajing yang berlarian di pepohonan yang ada di seberang beranda kamarku. Beberapa kali aku menyaksikan bajing-bajing itu berlarian. Lucu sekali. Mereka mengingatkanku pada dua tokoh kartun: Kiki dan Koko. Dan yah, aku senang sekali berlama-lama di beranda kamarku itu. Pemandangannya segeeer banget. Hijau. Hawanya sejuk. Menenteramkan. Hanya saja, kalau petang, dingiiin sekali. Kapan ya bisa menginap di sana lagi?

Kedua, hal yang kuingat adalah soal pentingnya membangun karakter. Selama ini ketika membuat cerita, aku seringnya memikirkan plotnya. Karakter nanti dulu ah, begitu pikirku. Aku berusaha memikirkan kira-kira twist apa yang akan kupakai. Iya, plot juga penting. Tapi membangun cerita dengan membuat karakter yang kuat ternyata sangat penting.

Karakter yang kuat memiliki tiga dimensi:

  • Fisik (fisiologis): Seperti apa gambaran fisik karakter kita ini? Apakah dia gemuk? Kurus? Jangkung? Kalau dia kucing, misalnya, apakah bulunya garis-garis? Bagaimana matanya? Dan seterusnya.
  • Internal (psikologis): Seperti apa sifat karakter yang ada dalam karya kita? Apakah dia pemalas? Penakut? Suka makan? Periang?
  • Eksternal (sosiologis): Bagaimana lingkungan tempat dia berada? Apakah dia di kota? Di hutan yang penuh semak duri? Apakah dia di pinggir sungai?

Ketiga hal itu perlu dibangun sejelas mungkin sejak awal.

Selanjutnya, kita perlu mengajukan beberapa pertanyaan:
1. Sejauh mana karakter yang kita buat itu tercermin dan mewarnai cerita kita? Apakah sudah tergambar jelas di dalam cerita? Jangan sampai penggambaran karakter yang kita susun di awal justru tidak tergambar jelas dalam cerita.

2. Apa yang dilakukan karakter kita? Apa motivasinya?
Karakter kita perlu memiliki motivasi yang kuat. Misalnya, tokoh kita seorang kakek. Dia memarahi anak-anak yang memetik mangga di depan rumahnya. Apa alasannya dia berbuat seperti itu? Apakah mangganya itu akan dia jual untuk keperluan hidupnya? Apakah dia sakit gigi? Buat alasan yang logis sehingga motivasi itu kuat. Hal itu akan mempengaruhi jalan cerita kita.

3. Perubahan apa yang dialami karakter kita? Bagaimana kondisinya di awal dan di akhir cerita?
Perubahan ini perlu dibuat mengalir dengan halus. Misalnya, jika di awal si kakek itu marah, bagaimana di akhir cerita? Apakah dia menjadi ramah terhadap anak-anak? Apakah ada alur yang terlompati dalam perubahan sifatnya?

Sepertinya aku perlu banyak latihan dalam membangun karakter yang kuat. Dan… jangan sampai aku bosan melakukan revisi. 😀 😀

Advertisements