Let’s Dance in Desert

dancing2.jpgMenari di Gurun
Judul asli: Dancing in The Desert
Penulis: Marsha Crockett
Penerbit asli: InterVarsity Press (Illinois, USA)
Penerbit Indonesia: Gloria Graffa (Yogyakarta)
Terbit di Indonesia: Januari 2005

Seingatku, ini adalah buku pertama yang aku terjemahkan selama di Gloria. Entah mengapa, kok akhirnya aku yang menerjemahkannya dan tidak diberikan kepada penerjemah2 lepas seperti biasanya.

Buku ini gampang-gampang susah untuk diterjemahkan. Bahasanya agak “mendayu-dayu“, karena buku ini isinya refleksi perjalanan iman sang penulis. Masing-masing bab dirancang untuk memperluas waktu bersama Allah. Penulis merancang agar pembaca menggunakan buku untuk ikut berefleksi juga, sehingga buku ini tidak dimaksudkan untuk dibaca dalam waktu singkat. Karena itu, aku dulu perlu berpikir lebih keras untuk menemukan kata-kata yang memudahkan seseorang untuk berefleksi. Tetapi asyik juga kok waktu mengerjakannya. Itu adalah tantangan.

Yang paling berharga adalah dengan menerjemahkan buku ini aku dapat mengevaluasi diri. Jadi, bisa dibilang, ketika menerjemahkannya, itu pun menjadi waktuku untuk introspeksi. Kalimat-kalimat yang tertulis di sini membuatku bertanya-tanya tentang diriku sendiri. Misalnya, ketika penulis menulis “Barangkali masa depan menahan kita untuk beristirahat dengan puas dalam pemeliharaan Allah” (hlm. 22), aku jadi berpikir, jangan-jangan aku kadang uring-uringan dan merasa tidak puas karena tidak bisa melihat indahnya saat ini–detik ini, menit ini? Aku terlalu khawatir dengan masa depan yang sepertinya membuatku bimbang. Aku bingung sendiri dan bertanya-tanya, apa yang sebaiknya aku lakukan agar masa depanku aman? Aku lupa bahwa Allah-lah yang memiliki masa depan. Yang perlu dilakukan adalah berbuat sebaik mungkin hari ini.

Bagian yang paling kusukai dari buku ini adalah sub bab yang diberi judul Sukacita Tersembunyi. Isinya sebenarnya tidak jauh berbeda dari perikop di Alkitab, tetapi penulis membahasakannya lagi sehingga bentuknya seperti tulisan-tulisan fiksi. Misalnya cerita tentang Yesus yang mencelikkan mata Bartimeus. Terjemahannya menjadi seperti ini:

Yesus mengulurkan tangan ke arah Bartimeus dan bertanya dengan lembut, “Apa yang engkau inginkan untuk Kulakukan padamu?” Senyum mengembang di wajah keriput Bartimeus. Tak seorang pun pernah menanyakan pertanyaan luar biasa seperti itu kepadanya, “Apa yang engkau inginkan untuk Kulakukan padamu?” Pertanyaan itu bisa saja membuatnya berpikir berbagai hal. Barangkali ia akan menjawab, “Duduklah di dekatku, dan mari kita bicara.” Atau mungkin ia akan berkata, “Gambarkan pohon wangi ini dan burung yang bernyanyi di pohon itu.” Tetapi pertanyaan Yesus sungguh mengejutkan dia. Dan yang diinginkan Bartimeus saat itu hanyalah melihat wajah orang yang bersedia menanyainya dan sanggup memenuhi permintaannya. Dan dengan ucapan perlahan, berani ia berbisik, “Rabi, aku ingin melihat.”

Tulisan seperti itu membuat sepenggal kisah itu menjadi sangat mengena di hati. Hmmm … Rasanya jadi pengin menulis buku sendiri 😀

Advertisements