Kado Kisah Natal

kado.jpgBukan Kado Biasa
Kisah-kisah Natal yang seindah kado para majus
Judul asli: Gifts of the Wise Men: A Treasury of Christmas Stories
Penulis: Colleen Reece
Penerbit asli: Kregel Publications (Grand Rapids)
Penerbit Indonesia: Gloria Graffa (Yogyakarta)
Terbit di Indonesia: Oktober 2005

Aku senang melihat ketika melihat buku ini pertama kali. Buku aslinya sebenarnya adalah buku gift. Jadi dalamnya colourful, berkertas art paper, banyak gambar yang indah-indah. (Duh, jadi pengen kapan-kapan menulis buku gift sebagus itu dan diterbitkan dalam bahasa Inggris. Tapi kapan ya?)

Buku ini isinya kisah-kisah seputar Natal. Kisah-kisah itu bagi penulisnya begitu berharga sehingga ibarat kado dari orang majus. Sebagian dari kisah-kisah buku ini merupakan kisah masa kecil Colleen. Ada kisah ketika ia pertama kali menabung untuk membeli kado Natal bagi para anggota keluarganya, cerita tentang ibunya yang dengan segenap hati membuat selimut perca untuk kado Natal, dan masih banyak lagi. Selain kisah hidup penulis itu sendiri, ada juga kisah-kisah yang–bagiku–sangat menyentuh hati. Rasanya gimanaaaa … gitu waktu membacanya.

Ketika mengerjakannya, aku suka menikmati kisah-kisah itu dan akhirnya setelah membaca cukup lama, aku mulai mengerjakannya. Tetapi rupanya badan dan mataku tidak bisa diajak kompromi terlalu lama. Aku capek dan … tidur deh! Hehehe. Toh akhirnya buku itu selesai juga sebelum Natal.

Nilai-nilai yang kuat di dalam buku ini adalah kasih dan persaudaraan. Rasanya ada kehangatan yang menjalari hati ketika membaca masing-masing kisahnya. Buku ini mengajariku untuk mengolah kisah hidup sehari-hari untuk dipaparkan secara istimewa. Tulisan-tulisan ini ibarat nasi goreng yang dimasak dengan tambahan sosis, kacang polong, udang, trus waktu menghidangkannya diberi garnish yang bagus banget. Menu yang biasa sebenarnya, tetapi diolah dan disajikan dengan sangat manis. Nyam!

Advertisement

Let’s Dance in Desert

dancing2.jpgMenari di Gurun
Judul asli: Dancing in The Desert
Penulis: Marsha Crockett
Penerbit asli: InterVarsity Press (Illinois, USA)
Penerbit Indonesia: Gloria Graffa (Yogyakarta)
Terbit di Indonesia: Januari 2005

Seingatku, ini adalah buku pertama yang aku terjemahkan selama di Gloria. Entah mengapa, kok akhirnya aku yang menerjemahkannya dan tidak diberikan kepada penerjemah2 lepas seperti biasanya.

Buku ini gampang-gampang susah untuk diterjemahkan. Bahasanya agak “mendayu-dayu“, karena buku ini isinya refleksi perjalanan iman sang penulis. Masing-masing bab dirancang untuk memperluas waktu bersama Allah. Penulis merancang agar pembaca menggunakan buku untuk ikut berefleksi juga, sehingga buku ini tidak dimaksudkan untuk dibaca dalam waktu singkat. Karena itu, aku dulu perlu berpikir lebih keras untuk menemukan kata-kata yang memudahkan seseorang untuk berefleksi. Tetapi asyik juga kok waktu mengerjakannya. Itu adalah tantangan.

Yang paling berharga adalah dengan menerjemahkan buku ini aku dapat mengevaluasi diri. Jadi, bisa dibilang, ketika menerjemahkannya, itu pun menjadi waktuku untuk introspeksi. Kalimat-kalimat yang tertulis di sini membuatku bertanya-tanya tentang diriku sendiri. Misalnya, ketika penulis menulis “Barangkali masa depan menahan kita untuk beristirahat dengan puas dalam pemeliharaan Allah” (hlm. 22), aku jadi berpikir, jangan-jangan aku kadang uring-uringan dan merasa tidak puas karena tidak bisa melihat indahnya saat ini–detik ini, menit ini? Aku terlalu khawatir dengan masa depan yang sepertinya membuatku bimbang. Aku bingung sendiri dan bertanya-tanya, apa yang sebaiknya aku lakukan agar masa depanku aman? Aku lupa bahwa Allah-lah yang memiliki masa depan. Yang perlu dilakukan adalah berbuat sebaik mungkin hari ini.

Bagian yang paling kusukai dari buku ini adalah sub bab yang diberi judul Sukacita Tersembunyi. Isinya sebenarnya tidak jauh berbeda dari perikop di Alkitab, tetapi penulis membahasakannya lagi sehingga bentuknya seperti tulisan-tulisan fiksi. Misalnya cerita tentang Yesus yang mencelikkan mata Bartimeus. Terjemahannya menjadi seperti ini:

Yesus mengulurkan tangan ke arah Bartimeus dan bertanya dengan lembut, “Apa yang engkau inginkan untuk Kulakukan padamu?” Senyum mengembang di wajah keriput Bartimeus. Tak seorang pun pernah menanyakan pertanyaan luar biasa seperti itu kepadanya, “Apa yang engkau inginkan untuk Kulakukan padamu?” Pertanyaan itu bisa saja membuatnya berpikir berbagai hal. Barangkali ia akan menjawab, “Duduklah di dekatku, dan mari kita bicara.” Atau mungkin ia akan berkata, “Gambarkan pohon wangi ini dan burung yang bernyanyi di pohon itu.” Tetapi pertanyaan Yesus sungguh mengejutkan dia. Dan yang diinginkan Bartimeus saat itu hanyalah melihat wajah orang yang bersedia menanyainya dan sanggup memenuhi permintaannya. Dan dengan ucapan perlahan, berani ia berbisik, “Rabi, aku ingin melihat.”

Tulisan seperti itu membuat sepenggal kisah itu menjadi sangat mengena di hati. Hmmm … Rasanya jadi pengin menulis buku sendiri 😀