Cerita dari Balik Layar

Sejak resmi tidak menjadi pegawai kantoran lagi, aku agak kesulitan ketika mendapat pertanyaan: “Anda dari mana?” Maksudnya “dari mana” di sini bukan menanyakan asal daerahku, melainkan soal instansi tempat aku bekerja. Dulu aku dengan mudah menyebutkan nama perusahaan atau penerbit tempat aku bekerja. Namun, sekarang tidak lagi.

Kini aku betul-betul menjadi seorang penerjemah. Ya, sebagian besar waktuku kuhabiskan untuk menerjemahkan buku. Hanya sesekali saja aku menulis. Kadang itu pun hanya tulisan permintaan teman. Kadang hanya pekerjaan “pro bono”. Selama aku sejalan dengan visi dan misi dari pekerjaan pro bono itu, sebetulnya tidak terlalu masalah. Tapi kalau pro bono-nya kebanyakan, bisa-bisa aku justru nombok. Jelas aku menghindari hal itu. Kalau dulu masih mendapat gaji setiap bulan, sedikit-sedikit pro bono ya tak apalah. Anggap saja seperti kolekte. 😀

Sejak betul-betul tak bernaung pada instansi mana pun, aku harus membiasakan diri untuk menjawab apa pekerjaanku. Tidak semua orang paham apa artinya menjadi penerjemah. Seperti misalnya ketika aku membuka rekening di bank, aku wajib menjawab apa pekerjaanku saat ini. Ketika kujawab, “Penerjemah,” ibu cantik yang bertugas di belakang meja berlabel customer service mengerutkan kening. “Saya isi sebagai wiraswasta saja ya?” Aku malas berdebat dan menjelaskan panjang lebar. Jadi, aku iyakan saja.

Tadi siang, ketika aku ke Indonesia Book Fair, aku masuk sebuah stand penerbit. Saat membayar belanjaanku, salah seorang bapak yang bertugas di situ bertanya, “Mbak dari mana?” Sekali lagi aku tak tahu harus menjawab apa. Aku balik bertanya, “Maksudnya, asal saya, pekerjaan saya, atau bagaimana?” Si bapak menjawab, “Pekerjaan Mbak.” Oh … ya mbok ngobrol. “Saya penerjemah, Pak.” Kebetulan aku membeli sebuah buku yang dulu kuedit dari penerbit itu . “Dulu saya yang mengedit buku ini,” lanjutku sambil mengambil salah satu buku yang kubeli. “Saya ingin memiliki lagi. Seingat saya nomor buktinya dulu saya berikan kepada orang lain.” Walaupun penerjemah dan editor berlainan pekerjaannya, semoga bapak itu tahu bahwa pekerjaanku berkaitan dengan pengerjaan buku. Toh, dia bekerja di penerbit, kan?

Saat menulis ini, aku jadi teringat status salah seorang dosenku. Dia menulis kutipan: Translator is a performer without a stage (Wechsler, 1998). Seorang penerjemah bagaikan pelakon tanpa panggung. Memang ada benarnya. Lagi-lagi contohnya kudapat ketika aku ke IBF tadi siang. Di stand sebuah penerbit yang cukup besar (nggak usah disebut namanya ya, toh tidak banyak kan yang bisa disebut penerbit besar hehe), ada banner yang memajang pengumuman bahwa akan ada acara “book signing” (tanda tangan) buku XYZ oleh sang pengarang. Buku XYZ itu adalah buku yang kuterjemahkan. Tapi di banner itu jelas tidak tertulis namaku. Haha. Dan sampai sekarang aku belum pernah menjumpai acara penandatanganan sebuah buku oleh penerjemahnya. Bagiku itu tidak masalah. Toh honorku sudah dibayar. 😀

Memang tidak banyak orang yang memerhatikan seorang penerjemah. Mungkin hanya orang-orang yang berprofesi sebagai penerjemah yang memberikan perhatian kepada (karya-karya) beberapa penerjemah yang sudah dianggap senior. Misalnya saja penerjemah buku-buku yang kita nikmati semasa anak-anak atau pra-remaja: Pak Agus Setiadi, Pak Djokolelono, Bu Listiana, Bu Maria A. Rahartati Bambang. Pernah dengar namanya? Nama mereka bisa dilihat dalam buku-buku seri Lima Sekawan, Sapta Siaga, Pasukan Mau Tahu, STOP, Asterix, dll. Berkat beliau kita bisa membaca seri-seri itu dengan nikmat, seolah bukan buku terjemahan. Itu tidak mudah lo. Kalau mau iseng, coba bandingkan hasil terjemahan mereka dengan buku aslinya. Kalau isengnya masih kurang, coba kalian terjemahkan satu atau dua paragraf, setelah itu bandingkan dengan hasil terjemahan mereka. Kalau sama nikmatnya, mungkin kalian bisa melamar menjadi penerjemah ke sebuah penerbit. Membuat terjemahan yang betul-betul enak dibaca butuh “jam terbang” yang tinggi. Meskipun di belakang layar, kadang penerjemah pun harus salto lo! 😀

Advertisements

4 thoughts on “Cerita dari Balik Layar

  1. Sebenarnya kalau dibilang bahwa penerjemah itu pelakon tanpa panggung,bagi saya itu nggak sepenuhnya betul. Justru dari penerjemahlah sebenarnya distribusi ilmu pengetahuan itu mendapati posisinya yang kukuh nian dalam perbincangan keilmuan dari berbagai peradaban di dunia. Mesti diakui, tersebarnya gagasan Yunani ke wilayah Arab (Islam) dan membuat Arab(Islam) menuju jaman ke-emasan di abad pertengahan adalah bakti para penerjemah. Pun begitu pula ketika Eropa pada abad XV bangkit menuju renaisans, semua berawal dari penerjemahan buku2 dari perpustakaan Granada, Kordova, juga tempat2 lain di wilayah Arab (Islam) oleh para penerjemah. Bagi saya,justru para penerjemahlah yang telah memberi pukulan dahsyat bagi seorang penulis hingga penulis tersebut terpelanting ke wilayah yang sebelumnya tak pernah sekalipun ia lihat secara langsung dengan mata kepalanya. Penulis jadi tahu bahwa ada wilayah yang sangat jauh yang juga membaca karyanya meski dengan bahasa berbeda.:D

  2. penerjemah memang lakon di belakang layar.. kadang kadang saya juga kepikiran mau jadi penerjemah saja.. untuk meningkatkan kemampuan menulis saya…

    Harusnya dirimu keren juga bisa menjadi penerjemah loh… khan ditulis juga namanya di buku…

    Ayo jadi penerjemah. Asyik lo kerjanya 😉

  3. saya rasa Pak Agus Setiadi dan Pak Djokolelono itu juga pengarang cerita anak-anak deh …

    kalau tidak salah lho

    salam saya Kris

    Iya, Pak Djokolelono itu pengarang cerita anak-anak. Saya punya salah satu bukunya. Kalau buku karya Pak Agus Setiadi, saya belum baca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s