Oleh-oleh dari Lokakarya Penerjemahan Sastra (8-12 Oktober 2012)

Kira-kira dua bulan yang lalu suamiku memberitahukan sebuah tautan tentang Inisiatif: Pusat Penerjemahan Sastra–lokakarya penerjemahan sastra. Wah ini menarik, pikirku. Meskipun selama ini buku-buku yang kuterjemahkan atau kuedit tidak termasuk buku sastra, tapi bidang penerjemahan dan sastra adalah dua hal yang menarik minatku. Untuk mengikuti lokakarya tersebut, calon peserta diminta mengirimkan contoh hasil terjemahan berikut naskah aslinya. Aku pun mengirimkan–di saat-saat terakhir. Lalu beberapa waktu kemudian diumumkan bahwa aku masuk sebagai salah satu peserta.

Hari Senin, tanggal 8 Oktober 2012. Tibalah hari lokakarya itu. Aku masuk dalam kelas penerjemahan dari teks (nukilan buku) bahasa Inggris yang bahasa aslinya adalah bahasa Belanda. Dalam lokakarya itu ada tiga kelas sebetulnya, yaitu penerjemahan teks (nukilan buku) bahasa Inggris yang bahasa aslinya Norwegia, dan kelas penerjemahan dari teks bahasa Belanda langsung. Teks yang diberikan untuk kelasku adalah nukilan dari novel Dover, karya Gustaf Peek. Novel ini membahas tentang imigran gelap dan perdagangan manusia, dengan tokoh utama seorang Indonesia keturunan Cina.

Dalam lokakarya ini kami menerjemahkan teks tersebut dengan meneliti serta memilih kata yang tepat. Jadi, kami mendiskusikan setiap pemilihan kata sehingga menghasilkan terjemahan yang efisien serta enak dibaca. Satu hal yang menarik dari diskusi itu adalah penulis novel, Gustaaf Peek, serta penerjemah (dari bahasa Belanda ke bahasa Inggris)–David Colmer–datang. Jadi, kami bisa bertanya apa saja tentang teks itu. Mulai dari latar belakang novel tersebut sampai hal-hal detail di dalamnya. Pengalaman berdiskusi ini memperkaya diriku dalam menerjemahkan sebuah teks (buku). Jika sebelumnya aku berpikir menerjemahkan secara berkelompok itu akan sangat melelahkan (terbayang eyel-eyelannya), kini aku berpikir lain. Menerjemahkan secara berkelompok membuat kami dapat menemukan pilihan kata yang tepat. Pemikiran beberapa orang teman justru memperkaya, bukannya melemahkan. Selain itu, kami mendapat group leader yang sangat membantu, yaitu Mas Anton Kurnia, penulis, penerjemah,  sekaligus editor (di Penerbit Serambi).

Bagiku, yang menarik dari diskusi dalam kelas lokakarya itu adalah ketika kami bisa bertanya langsung kepada pengarang dan penerjemahnya. Selama ini aku belum pernah berkontak langsung dengan penulis (beberapa) buku yang kuterjemahkan. Menurutku, komunikasi itu sangat membantu penerjemah. Dengan adanya dialog dengan penulis, penerjemah dapat mengurai kebingungan ketika menemukan bagian teks yang tidak dipahami. Dengan begitu, akan dihasilkan terjemahan yang enak dibaca dan akurat. Tentunya hal itu akan menguntungkan penulis buku yang bersangkutan. Sayangnya dalam proses penerjemahan buku, komunikasi semacam itu memang sangat jarang dilakukan. Hal ini terjadi biasanya karena pihak penulis sendiri yang kurang mau membuka diri untuk berkomunikasi. Kurasa komunikasi itu bisa dijembatani oleh pihak penerbit atau agen.

Lokakarya ini berlangsung selama lima hari (8-12 Oktober 2012) di Erasmus Huis, Jakarta dan pada hari keenam ditutup dengan pementasan teks yang kami garap selama lima hari itu. Pementasan itu juga hal yang baru bagiku. Jadi, kami memeragakan adegan dari nukilan novel tersebut. Lokakarya ini diselenggarakan dengan kolaborasi The British Centre for Literary Translation (BCLT, http://www.bclt.org.uk). Bersamaan dengan workshop ini juga diadakan seminar tentang penerjemahan sastra untuk mendiskusikan kondisi penerjemahan sastra di Asia, Eropa, dan Australia.

Advertisements

13 thoughts on “Oleh-oleh dari Lokakarya Penerjemahan Sastra (8-12 Oktober 2012)

  1. hai…kris…aku niken anak sasing kls a ang 96 juga…ceritamu seru bgt deh…thanks ya moga2 thn dpn diadakan lg n kami2 pada bs ikutan…oya’ skr kamu kerja di mana kok profesimu translator gitu ya? aku skr guru sma 1 cilacap’ dan aku ngajar anak kls bhs’ jd sapa tau lokakarya tsb bs kubagi dg murid2ku…sukses selalu ya

    halo Niken 🙂
    aku kerja di rumah, jadi penerjemah lepas.
    ya, semoga lokakarya serupa akan diadakan lagi. siapa tahu aku juga bisa ikut, dan kita bisa reunian 😀 😀

  2. Aih…dulu aku pernah bercita-cita jd translator gitu lho mba, tapi sepertinya aku tidak punya kemampuan di situ hihihihi

    ‘tugas’ akhirnya seru ya, mementaskan salah satu adegan yg diterjemahkan, pgn nonton perform mba Kris waktu itu^^

    aku jadi penerjemah juga karena “tersesat” kok hehe. kerja yang lain nggak bisa :))

  3. Wah, seru sekali pengalamannya Kris… Terima kasih ya sudah bagi-bagi sedikit di sini. wkwkwk pengen tahu lebih banyak lagi hahaha…

    Ketemuan aja yuk, biar bisa saling berbagi hehe. Pasti banyak cerita juga dari Mbak Retty kan.

  4. Ah, saya sekarang juga sering menerjemahkan. Tapi bukan buku, melainkan jurnal-jurnal bahasa Inggris buat mengisi Tinjauan Pustaka di laporan-laporan praktikum. Biasanya terjemahan saya disalin sama teman-teman sejurusan, tapi saya nggak pernah ketemu langsung sama penulis jurnalnya. 😛

    Sungguh kesempatan yang sangat langka bisa bertemu dengan penulis buku. Ingin rasanya saya mencoba menerjemahkan buku. Profesi yang (menurut saya) sangat menarik 🙂

  5. Kelihatannya menarik ya lokakaryanya. Saat membaca novel berbahasa asing pun sebenarnya kita juga secara tidak langsung melakukan translate kan…

  6. Minggu lalu (tanggal 8-12 Oktober 2012) saya mengikuti Indonesian Relay Translation Workshop, yang pada intinya merupakan wadah bagi para penerjemah untuk berkumpul dan mengulik naskah novel sastra bersama-sama, dengan dihadiri oleh penulisnya langsung. Relay di sini artinya naskah yang kami terjemahkan sudah diterjemahkan lebih dahulu ke bahasa Inggris dari bahasa asli si penulis. Kelas yang saya ikuti adalah penerjemahan dari bahasa Norwegia-Inggris-Indonesia. Jadi selain penulis Kjersti Skumsvold (ternyata Kjersti dibaca Schasti di Norwegia), kelas kami juga dihadiri Kari Dickson, penerjemah dari bahasa Norwegia ke bahasa Inggris.

  7. Mengomentari yang ini: “Sayangnya dalam proses penerjemahan buku, komunikasi semacam itu memang sangat jarang dilakukan. Hal ini terjadi biasanya karena pihak penulis sendiri yang kurang mau membuka diri untuk berkomunikasi. Kurasa komunikasi itu bisa dijembatani oleh pihak penerbit atau agen.”

    Aku beruntung bahwa sebagian besar penulis yang kuhubungi (biasanya lewat info kontak yang kuperoleh dari situs web mereka) bersedia menjawab pertanyaanku tentang buku mereka. Memang ada satu-dua yang menyatakan sibuk atau tidak membalas emailku, tetapi itu pengecualian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s