Calon Koki Pohul-pohul

Judul: Calon Koki Pohul-pohul
Cerita: C. Krismariana W.
Ilustrasi: Thomdean
Lay out: Yossy S. Putra
Penerbit: Sahabat Gloria bekerja sama dengan Yayasan Tifa
Ukuran: 17 x 25 cm
Tebal: 12 halaman

Ini komik kedua yang kukerjakan dengan Thomdean. Aku yang menulis ceritanya, Thomdean yang menggambar.

Di sini tema besar yang diangkat masih soal multikultur. Aku menggabungkan antara kesetaraan jender dengan makanan tradisional.

Kisahnya, Ami menginap di rumah Tante Retno. Di sana ia mulai berkenalan dengan Om Bonar, seorang dari suku Batak. Ami segera mendapat teman baru, Gita dan Arya, yang merupakan tetangga Tante Retno. Mereka pun bersama-sama memasak kue Lapet, kue tradisional yang sudah biasa dikenal di kalangan orang-orang Batak. Awalnya Arya tak mau diajak memasak karena ia menganggap memasak adalah pekerjaan anak perempuan. Tetapi setelah melihat Om Bonar pun memasak, ia akhirnya ikut memasak.

Di sini diharapkan anak-anak bisa belajar tentang suku lain, yaitu tentang kue tradisional dan sekilas karakteristik seorang lelaki dari suku Batak. Selain itu, dengan cerita Arya yang pada akhirnya mau memasak, anak-anak bisa belajar tentang kesetaraan jender.

Mengenai hal-hal yang berkaitan dengan orang Batak, aku bertanya langsung kepada beberapa kawanku yang merupakan orang Batak.

Komik ini diterbitkan dalam rangka program pendidikan multikulturalisme dengan pengembangan karakter. Diterbitkan oleh Sahabat Gloria bekerja sama dengan Yayasan Tifa.

1 Comment

Filed under Buku yang kutulis

Where’s God?

 

Judul: Jika Allah di Mana-mana, Mengapa Aku Tak Menemukannya?
Judul asli: If God Is Everywhere Why Can’t I Find Him?
Penulis: Kimberly Sadler
Penerbit asli: Living Ink Books, imprint dari AMG Publishers, Chattagona, Tennesse, 2005
Penerbit edisi Indonesia: Gloria Graffa, Yogyakarta, November 2008
Penerjemah: Ida Budipranoto
Penyunting: C. Krismariana W.
Desain sampul & isi: Yuphita Nofihantiwi

Buku ini merupakan gabungan antara kisah pergumulan hidup dan perenungan. Sesuai dengan sub-judulnya, “merasakan kehadiran Allah saat badai hidup melanda,” penulis buku ini menceritakan badai hidup yang ia alami dan bagaimana ia sempat tak bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Di manakah Tuhan? Dia pun mempertanyakan, Jika Allah ada di mana-mana, mengapa aku tak bisa menemukannya?

Badai hidup memang bisa mengaburkan pandangan kita terhadap Tuhan. Banyak orang mengalaminya. Tetapi seperti pengalaman kakek sang penulis saat mobilnya terperosok dalam pasir halus ketika dalam perjalanan ke tempat ia memancing, sang kakek cukup menekan pedal gas dan kopling bergantian untuk memaju-mundurkan mobilnya, sampai mobil itu bisa terbebas dari jebakan pasir. “Kadang kala kamu perlu mundur dahulu sebelum maju,” demikian ujar sang kakek.

Buku ini tidak hanya berisi kisah pergulatan yang dialami Kimberly Sadler, tetapi juga diperkaya oleh kisah-kisah dari orang lain yang juga mengalami kehilangan pandangan terhadap Tuhan. Ada tujuh orang yang ikut serta menceritakan kisah mereka; masing-masing disisipkan di akhir bab. Kisah-kisah mereka ini memperkaya pengalaman sang penulis yang sudah dikemukakan sebelumnya.

Aku mendapat kesempatan menyunting hasil terjemahan buku ini. Seingatku hasil terjemahannya lumayan, yang kulakukan adalah membuat terjemahan ini menjadi lebih luwes agar enak dibaca.

Leave a Comment

Filed under Buku yang kusunting

Belajar Multikulturalisme Lewat Komik

Judul: “Kita Bisa Bersahabat, Rin!”
Naskah: C. Krismariana W.
Ilustrasi: Thomdean
Lay Out: Yossy Sihol Putra
Diterbitkan pada bulan Mei, 2007
Komik ini diterbitkan dalam rangka Pendidikan Multikulturalisme dengan Pengembangan Karakter; kerja sama antara Persekutuan Sahabat Gloria dan Public Affair Section Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Awalnya aku menulis naskah ini adalah karena permintaan seorang teman yang memiliki kepedulian pada pendidikan anak-anak. Kali ini yang menjadi fokusnya adalah pendidikan multikulturisme.

Multikulturalisme merupakan fakta bahwa kita hidup di tengah masyarakat dengan berbagai kultur. Kultur atau budaya di sini bukan melulu soal kesenian, tetapi lebih pada cara hidup sekelompok orang, di dalamnya termasuk agama, teknologi (yang mereka pakai), adat istiadat, cara pandang, dan lain-lain.  Jika melihat sekeliling kita, kita akan dengan mudah melihat hal semacam itu. Tengoklah tetangga kita, siapakah mereka? Dari suku apa mereka? Kebiasaan apa yang mereka miliki? Bagaimana cara pandang mereka? Mungkin mereka tak jauh berbeda dengan kita dalam hal-hal tersebut, tetapi bisa jadi, mereka sangat berbeda dengan kita, bukan?

Perbedaan-perbedaan itu bisa menimbulkan gesekan di dalam masyarakat. Kemungkinan terjadinya konflik sangat tinggi.

Lalu bagaimana kita bisa mengelola perbedaan tersebut? Idealnya, kita belajar menangani perbedaan kultur itu sejak dini–sejak anak-anak. Nah, karena itulah komik ini dibuat. Saat ini masih jarang sekolah yang mengajari anak-anak mengelola perbedaan dan konflik yang berkenaan dengan multikulturalisme. Kalau menurutku sih, kita terkadang tidak terbuka dan menerima adanya perbedaan itu.

Ide pokok dalam komik ini adalah menerima perbedaan agama dan suku. Tentu saja, tokohnya adalah anak-anak. Di sini, perbedaan agama yang kuangkat adalah Islam, Kristen, dan sedikit memasukkan Konghucu. Adapun suku yang kuceritakan adalah suku Jawa dan Cina. Aku sengaja mengangkat hal-hal itu karena aku melihat seringnya konflik timbul antara Islam dan Kristen, serta antara suku Jawa dan Cina (sebenarnya lebih tepatnya pribumi dan non-pribumi).

Ketika menuliskannya, aku teringat pernah mendengar olok-olok yang berkenaan dengan perbedaan agama dan suku. Bahkan sampai sekarang, tak jarang aku masih melihat dan merasakan adanya kecurigaan yang beredar di masyarakat mengenai hal tersebut. Orang agama X curiga dengan agama Y. Orang suku X tidak suka dengan orang suku Y. Lalu mereka pun bertikai ….

Komik ini tidak diperjualbelikan, tetapi disebarkan secara cuma-cuma kepada anak-anak binaan yang dikelola oleh Persekutuan Sahabat Gloria. Sebenarnya aku berharap komik yang mengangkat tentang perbedaan seperti ini dapat diperjualbelikan di toko buku. Bagaimanapun Indonesia memiliki kultur yang berbeda dengan negara lain, dan anak-anak Indonesia bisa belajar menerima perbedaan semacam ini sejak dini.

1 Comment

Filed under Buku yang kutulis

Kenangan Natal Khas Indonesia

Judul: My Favorite Christmas
Subjudul: Rangkaian permenungan dan pengalaman unik yang membangkitkan sukacita Natal
Penulis: Tim penulis Gloria Cyber Ministries
Penerbit: Gloria Cyber Ministries, Yogyakarta
Ukuran: 13 x 17 cm
Tebal: 184

Buku ini ditulis secara keroyokan oleh 10 orang–salah satunya aku :)

Ide awalnya sebenarnya dari suatu pertanyaan: Mengapa kebanyakan buku Natal yang beredar di Indonesia mengambil setting dari Barat? Jadi, kebanyakan nuansanya adalah salju atau musim dingin. Padahal, di Indonesia tidak ada salju. Adanya hujan; karena Natal jatuh pada bulan Desember yang di Indonesia sedang mengalami musim hujan.

Kemudian, terpikir untuk menuliskan pengalaman Natal yang khas Indonesia. Maka, jadilah buku ini. Jadi, di buku ini tidak ada Natal yang berbalut salju, tetapi pembaca akan disuguhi Natal yang dirayakan dengan masakan opor ayam, Natal yang dirayakan di Bukit Barisan … dan sebagainya.

Buku ini isinya pengalaman kesepuluh penulis mengenai perayaan Natal yang berkesan bagi mereka masing-masing. Tentunya dengan disertai permenungan mereka juga. Natal di Indonesia memang tidak white, tapi wet… dan tentunya, ini memberi warna berbeda yang pantas untuk dituangkan menjadi kumpulan tulisan.

Leave a Comment

Filed under Buku yang kutulis

Buku Pengenalan tentang Homeschooling

Judul: Homeschooling untuk Anak, Mengapa Tidak?
Penulis: Loy Kho
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta 2007
Ukuran: 19,5 x 12,5 cm
Tebal: 104

Ini adalah buku tentang homeschooling yang pertama kali aku sunting. Buku ini ditulis oleh seorang ibu asal Indonesia yang kini tinggal di Cary, North Carolina, Amerika Serikat. Di sini ia menuliskan tentang pengalaman dan pemikirannya dalam memilih homeschooling sebagai cara untuk mendidik anak-anaknya.

Lewat buku ini ia memberi banyak informasi tentang seluk-beluk homeschooling di sana, termasuk alamat-alamat situs yang bisa diakses. Dengan demikian, para orang tua yang sedang mempertimbangkan hendak menerapkan homeschooling bagi anak-anak mereka, bisa memperoleh banyak informasi.

Leave a Comment

Filed under Buku yang kusunting

Secangkir Kopi Menemani Obrolan Homeschooling

Judul: Secangkir Kopi
Subjudul: Obrolan Seputar Homeschooling
Penulis: Loy Kho
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta 2008
Ukuran: 18,5 x 12,5 cm
Tebal: 262 halaman

Akhir-akhir ini istilah homeschooling mulai cukup sering terdengar di masyarakat. Sebagian orang ada yang sudah mengerti betul, sebagian lagi ada yang mengartikan homeschooling sebagai sekadar sekolah di rumah. Bagaimanapun, di Indonesia homeschooling masih belum marak.

Sebelum menyunting buku ini, aku juga kurang mengerti betul tentang homeschooling. Tetapi aku berpikir, gagasan sekolah di rumah itu tampaknya menarik. Hanya saja, untuk mengetahui betul kegiatan keluarga yang menerapkan homeschooling, aku tak tahu harus mencari di mana. Memang, di dunia maya aku sempat membaca beberapa situs di internet mengenai keluarga yang menerapkan homeschooling. Nah, setelah menyunting buku ini aku jadi lebih tahu tentang pengalaman keluarga-keluarga homeschooling.

Buku ini berisi pengalaman beberapa orang tua yang tinggal di Amerika yang menerapkan homeschooling bagi anak-anaknya. Di bagian pendahuluan, Loy Kho menyatakan bahwa lewat buku ini ia hendak mengajak pembaca untuk mengintip keluarga-keluarga homeschooling. Kebanyakan dari mereka adalah anggota kelompok FISH (Family Instructing Student at Home, yaitu perkumpulan jemaat Gereja Apex Baptist yang menerapkan homeschooling). Selain itu Loy Kho juga mengajak pembaca berkunjung ke rumah Aminah dan Anissa (keduanya nama samaran) yang menerapkan homeschooling bagi anak-anak mereka. Aminah adalah orang Malaysia sedang Anisaa orang Indonesia; keduanya bermukim di Amerika. Juga, pembaca diajak mengunjungi Kim Ashby, pendiri  GIFTSNC (Giving and Getting Information for Teaching Special Needs Children; yaitu wadah bagi keluarga yang dikaruniai anak-anak berkebutuhan khusus); dan juga Ibu Lusi yang merupakan Ketua dari National Federation of The Blind di daerah Wake County; serta Ibu Sharon pendiri Spiceline dan Pendeta Scott dari Gereja Colonial Baptist di Cary, North Carolina. Karena berisi tentang pengalaman-pengalaman orang tua, maka isi buku ini lebih banyak “bercerita”, dan bukan penuturan yang kering.

Di buku ini juga disertakan mengenai legalitas hukum homeschooling di Indonesia, kurikulum homeschooling dan model kelompok-kelompok pendukung.

Leave a Comment

Filed under Buku yang kusunting

Membangun Energi Positif untuk Meraih Keberhasilan

05b feel great

Judul: How To Feel Great About Yourself
Jadikan Diri Anda Luar Biasa
Pengarang: Steve Wharton
Penerbit (edisi Indonesia): Kanisius, Yogyakarta, 2009
Tebal: 147
Ukuran: 13 x 20 cm

Bagaimana Anda bisa merasa nyaman dan senang terhadap diri sendiri? Apakah ada kiat khususnya?

Kurasa ada banyak buku yang membahas soal bagaimana caranya agar kita merasa senang, nyaman terhadap diri sendiri, cara meraih kesuksesan, dan mewujudkan mimpi Anda. Dan ini adalah salah satu buku yang membahasnya. Namun, apa yang membedakan buku ini dengan buku-buku senada lainnya?

Bahasan dalam buku ini berdasarkan High-vibrational Thinking (HVT) atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Pemikiran Bergetaran Tinggi (PGT). Apa sih PGT itu?

Pembahasan soal PGT ini diawali dengan membahas soal energi yang ada di sekitar kita. Dikatakan bahwa dunia kita ini adalah sebuah lautan energi yang sangat luas, dengan bentuk yang berbeda-beda (hal. 10) Dalam pelajaran fisika di sekolah mungkin kita sudah belajar bahwa benda padat yang kita lihat, tidak terbuat dari zat tunggal, tetapi terdiri dari partikel-partikel kecil yang bergetar dengan kecepatan sangat tinggi. Partikel-partikel itu disebut neutron, elektron, dan proton. Mereka saling terkait membentuk atom, yang merupakan bangunan dasar dari kehidupan (hal. 11). Nah, yang hebat adalah, atom-atom ini sebenarnya merupakan ruang kosong. Jadi, meskipun apa yang kita lihat sebagai benda padat, sebenarnya sama sekali tidak padat! Semuanya terbuat dari energi, yang bergetar pada frekuensi tinggi. Nah, kita pun merupakan bagian dari siklus energi seperti benda-benda lain di sekitar kita. PGT didasarkan pada fakta ini. Prinsipnya, kita hanya perlu memandang dan berpikir tentang dunia ini sebagai suatu bentuk energi.

Energi emosional bergetar pada frekuensi yang berbeda. Emosi positif merupakan energi bergetaran tinggi, sedangkan emosi negatif merupakan energi bergetaran rendah. Pada halaman 17, digambarkan bahwa cinta dialirkan dalam bentuk gelombang pendek, sehingga frekuensinya cepat dan memiliki getaran tinggi. Sedangkan takut dialirkan dalam bentuk gelombang panjang, sehingga frekuensinya lambat dan getarannya rendah. Nah, jadi apa pun yang kita pikirkan dan rasakan memiliki dampak nyata karena bisa mengubah medan energi pribadi kita. Kalau kita senang, maka energi kita getarannya tinggi; begitu pula sebaliknya.

Di buku ini dibahas pula bagaimana caranya agar kita bisa membangun dan mempertahankan energi bergetaran tinggi. Sebenarnya apa efeknya jika kita memiliki energi bergetaran tinggi? Dengan energi bergetaran tinggi, kita akan merasa nyaman terhadap diri sendiri sehingga dengan begitu kesuksesan pun semakin dekat dengan kita dan dapat kita raih.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa memiliki energi bergetaran tinggi? Teknik-tekniknya dibahas secara ringkas pada bab berjudul Membuat Perubahan Kecil dengan PGT (hal. 73). Salah satu teknik PGT di bab ini yang menarik bagiku adalah mengenali orang-orang yang bergetaran rendah, dan menjauhinya. Orang-orang itu di antaranya adalah teman yang membuat Anda sedih atau kecewa, kehilangan energi atau bosan. Nah, adakah orang semacam itu di sekitar Anda? Sebaliknya, banyak-banyaklah bergaul dengan orang yang lebih bersemangat. Ingat kan, bagaimana rasanya saat kita bertemu dengan orang yang berbicara dengan penuh semangat? Rasanya kita menjadi ikut bersemangat pula kan?

Namun, tidak hanya pada bab ini saja dijelaskan teknik-teknik bagaimana memiliki energi bergetaran tinggi. Bab-bab selanjutnya membahas lebih lanjut dan lebih detail teknik-teknik yang bisa membantu kita merasa nyaman terhadap diri sendiri. Di bagian terakhir, bahkan penulis memberikan semacam lembar kerja yang akan lebih membantu pembaca.

Satu hal yang membuatku sedikit “ngganjel”soal buku ini adalah tidak adanya informasi soal si pengarang. Setelah kucari-cari dengan bantuan Google, kutemukan bahwa Steve Wharton sudah menghabiskan waktu selama 33 tahun untuk belajar soal pengembangan pribadi dan dia sudah membaca lebih dari 1000 buku soal pengembangan diri dan psikologi. Selama lima tahun ia menjadi editor Majalah Yes! dan selama tiga tahun ia menulis dan mengadakan pelatihan PGT. Ia sudah mengembangkan PGT ini selama lebih dari 15 tahun.

Ini adalah salah satu buku yang kukerjakan dengan penuh semangat. Ada beberapa informasi yang menambah pengetahuanku, terutama soal energi dan kaitannya dengan emosi manusia.

4 Comments

Filed under Buku yang kuterjemahkan

Pelajaran Pertama tentang Bumi

EduComics-BUMIJudul: Aku Suka Belajar … Bumi

Ide cerita: DongaScience

Teks: Fourth Dimension

Ilustrasi: Lee Hangseon

Penerbit: PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2009

Ukuran: 20,5 x 29 cm

Tebal: 65 halaman

Ini buku anak-anak pertama yang kuterjemahkan untuk BIP (PT. Bhuana Ilmu Populer). Pertama kali melihat buku asli yang dikirimkan kepadaku, aku langsung jatuh cinta melihat gambar-gambarnya yang lucu.  Soalnya pada dasarnya aku suka gambar-gambar kartun sih :)

Buku ini memperkenalkan serba-serbi bumi kepada anak-anak. Dalam mengemas informasi dan pengetahuan tentang bumi, para penulis buku ini memadukannya dengan cerita fiksi. Kali ini tokohnya bernama Mimi (Master), Bobo, dan Kera Sakti.  Mimi dan Bobo adalah tamu yang datang dari asteroid dan hendak mengunjungi bumi. Namun, tak lama ketika mereka menginjakkan kaki di bumi, Kera Sakti menangkap mereka karena menganggap mereka siluman.  Akhirnya, karena terbukti tidak membahayakan, Kera Sakti melepaskan Mimi dan Bobo lalu mereka berpetualang bersama dengan naik Awan Ajaib.  Yipieee … mari kita berpetualang!

Dari perjalanan petualangan mereka inilah berbagai informasi dan pengetahuan tentang bumi diperkenalkan kepada anak-anak. Saat petualangan itu, Mimi, Bobo, dan Kera Sakti belajar tentang rotasi dan revolusi bumi, hukum gravitasi, daratan dan lautan di bumi, dasar laut, terjadinya gunung, kutub utara dan kutub selatan, dan masih banyak lagi. Masuknya unsur fiksi di dalam buku ini kurasa membuat anak-anak bisa belajar tanpa beban–sehingga pengetahuan yang mereka serap tidak mudah terlupa. Selain itu yang menarik adalah gambar-gambar yang ditampilkan di buku ini sangat membantu anak-anak lebih memahami apa yang sedang mereka pelajari. Misalnya, di halaman 24 digambarkan tentang Pangaea, yaitu kondisi daratan di zaman Paleozoikum, saat benua di bumi belum terpisah-pisah seperti sekarang ini. Dan juga dipaparkan juga gambar tiga jenis gunung berdasarkan umurnya (halaman 29).

Diterbitkan pertama kali dalam bahasa Korea dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh PT Bhuana Ilmu Populer, buku ini ditulis oleh Fourth Dimension (Nam Chunja, Yi Seunghi, Kim Eunyeoung), yaitu sekelompok penulis yang mengembangkan tulisan edukasi yang menarik bagi anak-anak. Buku komik sains mereka direkomendasikan oleh Menteri Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi. Ilustrasi buku ini dikerjakan oleh Lee Hangseon, seorang seniman yang suka menggambar ilustrasi, komik, dan animasi. Buku ini bisa dibaca untuk anak-anak mulai usia 5 atau 6 tahun.

6 Comments

Filed under Buku yang kuterjemahkan

Yuk Belajar Tentang Robot

EduComics-ROBOTJudul: Aku Suka Belajar Robot
Ide cerita: DongaScience
Teks: Fourth Dimension
Ilustrasi: Jeong Jieun
Ukuran buku: 20,5 x 29 cm
Isi: 65 halaman
Penerbit: PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2009

Kupikir aku tak punya robot di rumah. Tapi ketika menerjemahkan buku ini, aku jadi tahu bahwa aku ternyata menyimpan beberapa robot di rumah. Hehehe. Rupanya rice cooker dan komputer yang kupakai setiap hari itu termasuk robot. Alangkah bodoh dan ndesonya aku ya!

Buku ini dibuka dengan adegan Neo sedang bermain dengan dua robot mainannya, Maru dan Geo. Setelah kelelahan ketiganya beristirahat. Nah, rupanya ada seorang robot jahat android yang ingin menghancurkan manusia dan membangun dunia robot. Dan untuk mewujudkan keinginannya  itu dia menggunakan cara licik, yaitu memasang cip aneh dalam tubuh Maru dan Geo. Cip itu membuat Maru dan Geo melakukan perjalanan ke kota robot di masa depan. Bagaimana Maru dan Geo bisa menggagalkan cita-cita jahat robot android itu?

Di dalam buku ini dikisahkan petualangan Maru, Geo, dan Neo saat mengikuti sinyal cip yang dipasang oleh android. Selama perjalanan, mereka bertemu dengan berbagai macam robot, di antaranya robot humanoid, robot android, robot dokter, robot psikoterapi, robot militer, robot luar angkasa, dan robot nano. Dari perjumpaan dengan bermacam-macam robot itu, mereka jadi tahu bagaimana sejarah awal robot, bantuan di berbagai bidang yang diberikan robot kepada manusia, permainan robot, tiga aturan robot, dan sebagainya.

Ini memang buku anak-anak. Tetapi ketika menerjemahkannya, aku mendapat informasi yang cukup lumayan lo. Misalnya, aku baru tahu bahwa ternyata ada robot yang bisa mendapatkan energi dari makanan yang mengandung gula (halaman 57). Lalu, ternyata ada aturan yang dibuat oleh Isaac Asimov untuk mencegah agar robot yang pintar dan maju tidak memberontak melawan manusia di masa yang akan datang (halaman 59). Dan menyenangkan sekali bisa mendapatkan informasi dengan cara seperti itu. Aku mengacungkan jempol kepada tim penulis buku ini karena bisa menyajikan pengetahuan kepada anak-anak dengan cara membangun cerita fiksi dan memasukkan informasi ke dalamnya. Kurasa anak-anak akan menyukainya. Aku yang awalnya tidak tahu apa-apa soal robot, jadi tertarik :)

Buku ini pertama kali diterbitkan di Korea, lalu diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh PT Bhuana Ilmu Populer (BIP). Tim penulisnya adalah Fourth Dimension, yang merupakan sekelompok penulis yang mengembangkan tulisan edukasi yang menarik untuk anak-anak. Buku tulisan mereka ini direkomendasikan oleh Menteri Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi. Ilutrasi buku ini dikerjakan oleh Jeong Jieun, yang sudah suka menggambar sejak kecil. Buku ini bisa dibaca oleh anak-anak mulai usia 5 atau 6 tahun.

3 Comments

Filed under Buku yang kuterjemahkan

Kado Kisah Natal

kado.jpgBukan Kado Biasa
Kisah-kisah Natal yang seindah kado para majus
Judul asli: Gifts of the Wise Men: A Treasury of Christmas Stories
Penulis: Colleen Reece
Penerbit asli: Kregel Publications (Grand Rapids)
Penerbit Indonesia: Gloria Graffa (Yogyakarta)
Terbit di Indonesia: Oktober 2005

Aku senang melihat ketika melihat buku ini pertama kali. Buku aslinya sebenarnya adalah buku gift. Jadi dalamnya colourful, berkertas art paper, banyak gambar yang indah-indah. (Duh, jadi pengen kapan-kapan menulis buku gift sebagus itu dan diterbitkan dalam bahasa Inggris. Tapi kapan ya?)

Buku ini isinya kisah-kisah seputar Natal. Kisah-kisah itu bagi penulisnya begitu berharga sehingga ibarat kado dari orang majus. Sebagian dari kisah-kisah buku ini merupakan kisah masa kecil Colleen. Ada kisah ketika ia pertama kali menabung untuk membeli kado Natal bagi para anggota keluarganya, cerita tentang ibunya yang dengan segenap hati membuat selimut perca untuk kado Natal, dan masih banyak lagi. Selain kisah hidup penulis itu sendiri, ada juga kisah-kisah yang–bagiku–sangat menyentuh hati. Rasanya gimanaaaa … gitu waktu membacanya.

Ketika mengerjakannya, aku suka menikmati kisah-kisah itu dan akhirnya setelah membaca cukup lama, aku mulai mengerjakannya. Tetapi rupanya badan dan mataku tidak bisa diajak kompromi terlalu lama. Aku capek dan … tidur deh! Hehehe. Toh akhirnya buku itu selesai juga sebelum Natal.

Nilai-nilai yang kuat di dalam buku ini adalah kasih dan persaudaraan. Rasanya ada kehangatan yang menjalari hati ketika membaca masing-masing kisahnya. Buku ini mengajariku untuk mengolah kisah hidup sehari-hari untuk dipaparkan secara istimewa. Tulisan-tulisan ini ibarat nasi goreng yang dimasak dengan tambahan sosis, kacang polong, udang, trus waktu menghidangkannya diberi garnish yang bagus banget. Menu yang biasa sebenarnya, tetapi diolah dan disajikan dengan sangat manis. Nyam!

2 Comments

Filed under Buku yang kuterjemahkan